Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Optimisme Ekonomi China Meningkat

Data yang dirilis Senin (16/12/2019), output industri dan konsumsi swasta jauh lebih kuat dari yang diharapkan, dengan produksi melonjak 6,2% dari tahun sebelumnya dan penjualan ritel naik 8%.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 16 Desember 2019  |  12:20 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA - Peningkatan ekonomi China pada November menambah optimisme dari kesepakatan dagang yang diumumkan pekan lalu.

Meski demikian, masih banyak risiko penurunan menjelang 2020.

Data yang dirilis Senin (16/12/2019), output industri dan konsumsi swasta jauh lebih kuat dari yang diharapkan, dengan produksi melonjak 6,2% dari tahun sebelumnya dan penjualan ritel naik 8%.

Pada saat yang sama, investasi aset tetap (fixed-asset) dalam 11 bulan pertama tahun ini tumbuh 5,2%, laju paling lambat sejak setidaknya tahun 1998.

Jika kesepakatan perdagangan ditandatangani awal tahun depan, setelah pembatalan kenaikan tarif AS, maka beberapa ketidakpastian yang menggantung pada ekonomi dapat berkurang.

Di dalam negeri, pembuat kebijakan China masih menghadapi pertanyaan tentang keberlanjutan utang dan meningkatnya risiko gagal bayar.

Akan tetapi, pemerintah telah menekankan stabilitas kebijakan dan ada sedikit peluang perubahan hingga setidaknya Maret tahun depan, ketika pemerintah bertemu untuk menyetujui pedoman kebijakan umum 2020.

"Tanpa kenaikan tarif Desember, kenaikan dalam kegiatan domestik baru-baru ini kemungkinan akan bertahan lebih lama," menurut Kepala Ekonom China UBS AG Wang Tao, dikutip melalui Bloomberg, Senin (16/12/2019).

Wang menuliskan, nada kebijakan pelonggaran juga harus mendukung investasi properti yang tangguh dan peningkatan dalam pembangunan infrastruktur untuk beberapa bulan mendatang.

Namun, dia menambahkan, ketidakpastian terkait perang dagang yang bertahan lama, akan menekan belanja modal perusahaan dan mencegah kegiatan produksi kembali ke kondisi sebelum tarif impor berlaku.

Ekonom dari UBS AG dan Oxford Economics Ltd meningkatkan proyeksi mereka untuk pertumbuhan produk domestik bruto China pada 2020 menjadi 6% dari 5,7% setelah kesepakatan diumumkan, meskipun ketidakpastian akan tetap ada.

Citic Securities Co., sebuah rumah pialang domestik terkemuka, mengatakan mereka mengharapkan penurunan tarif dapat mengangkat pertumbuhan PDB sebesar 0,5% pada 2020, jika semua faktor lain tetap tidak berubah.

Pada Jumat (13/12/2019), China dan AS mengumumkan bahwa mereka akan mencapai kesepakatan perdagangan awal, disusul dengan gencatan tarif yang lebih tinggi bulan ini.

Namun, untuk pengurangan tarif yang masih berlaku, seperti yang dijanjikan tampaknya tidak akan berlaku paling cepat hingga Februari dan itu bisa menunda dampak langsung pada penguatan pertumbuhan.

"Kesepakatan fase satu itu telah mengurangi ketidakpastian pasar, meningkatkan kepercayaan pasar, dan China berharap kedua belah pihak dapat bekerja lebih keras untuk mengurangi tarif atau bahkan menghapus semua tarif secara bertahap," menurut Fu Linghui, juru bicara Biro Statistik Nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top