Perjanjian IEU-CEPA Ditarget Rampung 2020

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan mendapat tugas khusus untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan internasional. Salah satu yang menjadi prioritas yakni Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 13 Desember 2019  |  14:11 WIB
Perjanjian IEU-CEPA Ditarget Rampung 2020
Wakil Menteri PerdaganganJerry Sambuaga menyebutkan perjanjian IEU-CEPA ditarget rampung 2020 - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, MANADO - Kementerian Perdagangan menargetkan perjanjian Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement dapat rampung pada 2020.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan mendapat tugas khusus untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan internasional. Salah satu yang menjadi prioritas yakni Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA).

“[Target IEU CEPA] selesai tahun depan,” ujar Jerry saat melakukan sosialisasi dan pemantauan harga bahan pokok di Pasar Bersehati, Kota Manado, Sulawesi Utara, Jumat (13/12/2019).

Jerry mengatakan tengah melakukan negosiasi terus menerus dengan para pemangku kepentingan baik di Eropa maupun Indonesia. Tujuannya, untuk segera menyelesaikan perjanjian tersebut.

Jerry mengklaim IEU CEPA akan berdampak positif kepada Indonesia, tidak terkecuali Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Menurutnya, banyak produk yang bisa diperdagangkan.

“Uni Eropa pasar besar lebih dari 400 juta penduduk. Indonesia bisa melakukan penetrasi yang masif sehingga bisa meningkatkan perdagangan dan ekonomi Indonesia,” tutur Jerry.

Indonesia dan Uni Eropa telah melakukan perundingan IEU CEPA putaran ke-9 pada 2 hingga 6 Desember 2019 di Brussel, Belgia. Proses perundingan pertama kali dimulai pada 2016.

Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor Indonesia ke Eropa US$17,1 miliar dan nilai impor US$14,2 miliar pada 2018. Total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa senilai US$31,2 miliar tahun lalu atau tumbuh 8,29 persen secara year on year

Uni Eropa menjadi tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 Indonesia. Adapun, nilai investasi Uni Eropa di Indonesia senilai US$3,2 miliar pada 2017.

Terkait kinerja ekspor Sulut, Jerry mengatakan optimistis akan membaik. Pihaknya mendorong agar harga-harga komoditas unggulan Bumi Nyiur Melambai kembali stabil.

“Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kota,” imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut , nilai ekspor nonmigas Bumi Nyiur Melambai senilai US$70,31 juta pada Oktober 2019. Komoditas dengan kontribusi terbesar diduduki oleh lemak dan minyak hewan atau nabati senilai US$35,88 juta atau setara dengan 51,03% dari total nilai ekspor nonmigas.

Sebelumnya, Kepala BPS Provinsi Sulut Ateng Hartono menjelaskan bahwa nilai ekspor Bumi Nyiur Melambai senilai US$639,55 juta pada Januari 2019 - Oktober 2019. Pencapaian itu turun 22,67 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Ateng mengatakan penurunan terjadi sejalan dengan tergerusnya nilai ekspor kelompok komoditas utama yakni lemak dan minyak hewani atau nabati. Peran sektor itu tercatat sebesar 43,72 persen pada Januari 2019 - Oktober 2019 atau lebih rendah dari kontribusi 60,32 persen periode yang sama tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perdagangan, uni eropa, kemendag, IEU-CEPA

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top