Libur Natal & Tahun Baru Tak Cukup Ampuh Kerek Kunjungan Wisman ke Indonesia

Libur Natal dan Tahun Baru diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara. Kendati demikian, adanya kesempatan libur panjang akhir tahun tidak akan bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisman di Indonesia.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  16:25 WIB
Libur Natal & Tahun Baru Tak Cukup Ampuh Kerek Kunjungan Wisman ke Indonesia
Wisatawan mancanegara menggunakan jasa becak motor di kawasan Titik Nol Kilometer, DI Yogyakarta, Jumat (28/7). - ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, JAKARTA - Libur Natal dan Tahun Baru diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara. Kendati demikian, adanya kesempatan libur panjang akhir tahun tidak akan bisa mendongkrak jumlah kunjungan wisman di Indonesia.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Junaedy menuturkan GIPI memproyeksi jika sepanjang 2019, jumlah wisman yang datang ke Indonesia hanya sekitar kurang lebih 17 juta-an.

“Capaian sampai akhir 2019 itu perkirakan kami sampai 17 jutaan, tetapi enggak sampai 18 juta walaupun [libur] Desember bisa jadi lonjakan,” kata Didien kepada Bisnis.com, Selasa (3/12/2019).

Menurutnya, selain faktor alam, hal ini juga dipengaruhi oleh ketidakstabilan kondisi ekonomi dunia yang membuat banyak orang belum ingin berpergian. Kalaupun berpergian, mereka akan mengurangi waktu kunjungannya.

“Kalau tiket pesawat sih enggak, karena harga tiket pesawat yang mahal itu bukan masalah bagi wisman, kan mereka belinya tiket di luar negeri. Nah, tarif pesawat itu jadi masalah untuk yang di dalam negeri, dari dalam mau luar negeri [outbound], atau yang mau ke pulau/daerah lain.”

Dalam hal menyambut libur Natal dan Tahun Baru, Didien mengatakan bisanya para pelaku industri sudah menyiapkan promo paket liburan yang dijual sejak jauh hari.

“Ya semua industri pasti akan memanfaatkan potensi Desember dan Tahun Baru. Jadi semuanya sudah berusaha baik domestik maupun luar negeri tapi belum bisa diukur. Semua sedang mengejar omzet.”

Menurutnya, momentum tersebut menjadi peluang pelaku industri pariwisata untuk mendongkrak penjualannya, paling tidak 20%--25% dibandingkan penjualan di hari biasa.

“Biasanya kenaikannya 20%--25%, tetapi itu untuk pariwisata di Jawa, karena aksesbilitas di Jawa sudah cukup bagus, apalagi pilihan moda transportasinya juga banyak. Berbeda dengan destinasi wisata lainnya.”

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Elly Hutabarat mengatakan dalam rangka menyambut libur akhir tahun dan Natal, para anggota Astindo sudah sejak lama menjual promo paket liburan.

“Mereka masing-masing setiap akhir tahun sudah siapkan paket yang menarik dan dijual sudah lama. Itu sudah tiap tahun sih, biasanya yang paling laku itu paket ke Bangkok, Hongkong dan Bali.  Penjualannya biasanya bisa naik 20% kalau akhir tahun dibandingkan hari biasa,” kata Elly.

Dalam hal ini, Elly mengatakan meskipun ada momentum liburan pada Desember, pelaku usaha agen perjalanan cukup keberatan dalam menggaet kunjungan wisman di Indonesia.

“Berat sepertinya, karena sampai sekarang baru berapa juta totalnya. Seharusnya kan 20 juta wisman, kemudian direvisi jadi 18,5 juta karena ada bencana. Tapi kalaupun direvisi, untuk mencapai angka itu ya masih cukup berat,” jelas Elly.

Adapun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, secara kumulatif sepanjang Januari--Oktober 2019, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 13,62 juta atau naik 2,85% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang berjumlah 13,25 juta wisman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, kunjungan wisman

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top