Inflasi November Rendah, Konsumsi Diduga Melambat

Seperti diketahui, inflasi pada November 2019 masih tercatat rendah pada angka 0,12% (mtm) dan 3% (yoy). Apabila dibandingkan dengan November 2017 dan 2018, inflasi kala itu tercatat sebesar 0,2% (mtm) pada November 2017 dan 0,27% (mtm) pada November 2018.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  17:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Rendahnya inflasi pada November 2019 dan masih rendahnya Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur per November 2019 mengindikasikan adanya perlambatan konsumsi.

Seperti diketahui, inflasi pada November 2019 masih tercatat rendah pada angka 0,12% (mtm) dan 3% (yoy). Apabila dibandingkan dengan November 2017 dan 2018, inflasi kala itu tercatat sebesar 0,2% (mtm) pada November 2017 dan 0,27% (mtm) pada November 2018.

Secara tahun ke tahun, inflasi pada November 2017 dan 2018 juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan November 2019. Kala itu, inflasi masing-masing tercatat hingga 3,3% (yoy) dan 3,23% (yoy).

Pada sisi lain, PMI Manufaktur per November 2019 juga tercatat pada angka 48,2, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan PMI Manufaktur per Oktober 2019 yang berada pada angka 47,7.

Meski sedikit meningkat, hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2019 bakal berada pada angka 4,9% (yoy), lebih rendah dari kuartal-kuartal sebelumnya.

IHS Markit menyebutkan bahwa sektor manufaktur masih cenderung menahan produksi akibatnya masih tingginya stok barang yang belum terjual.

Wakil Direktur Indef Eko Listyanto menilai hal ini mengkonfirmasi bahwa masyarakat baik kelas atas hingga kelas bawah masih cenderung menahan belanja hingga akhir tahun 2019.

Hal ini bagaimanapun dilatarbelakangi oleh persepsi masyarakat yang cenderung pesimis atas outlook perekonomian tahun depan baik global maupun domestik meski pada satu sisi pemerintah masih tetap optimistis dengan target pertumbuhan ekonomi pada angka 5,3% pada 2020.

"Masyarakat dalam setahun ke depan itu memandang akan terjadi kontraksi ekonomi dan diantisipasi dengan menabung," ujar Eko, Senin (2/12/2019).

Menurutnya, inflasi pada November 2019 masih cenderung didorong oleh permintaan untuk memenuhi kebutuhan primer yakni makanan, sedangkan untuk kebutuhan sekunder dan tersier masih cenderung stagnan.

Secara siklikal, hal ini pula yang mendorong stok barang tidak terjual sebagaimana disebutkan oleh IHS Markit melalui PMI Manufaktur cenderung tidak terserap selama beberapa bulan terakhir.

Di lain pihak, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara secara singkat mengatakan inflasi yang rendah pada November 2019 menunjukkan bahwa harga barang masih stabil dan belum mengindikasikan adanya penurunan konsumsi. "Kalau inflasi di angka 3% berarti kan stabil," ujarnya singkat, Senin (2/12/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top