Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Industri Jepang Turun Lebih dari Perkiraan pada Oktober

Dampak cuaca ekstrem dan lesunya perdagangan global terhadap ekspor menyeret produksi industri Jepang mencatat penurunan lebih dari yang diperkirakan pada Oktober.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 November 2019  |  09:12 WIB
Burung-burung terbang dengan latar gunung Fuji dan crane di pelabuhan di Tokyo, Jepang 25 Januari 2016. - REUTERS/Toru Hanai
Burung-burung terbang dengan latar gunung Fuji dan crane di pelabuhan di Tokyo, Jepang 25 Januari 2016. - REUTERS/Toru Hanai

Bisnis.com, JAKARTA – Dampak cuaca ekstrem dan lesunya perdagangan global terhadap ekspor menyeret produksi industri Jepang mencatat penurunan lebih dari yang diperkirakan pada Oktober.

Menurut data kementerian ekonomi Jepang yang dirilis Jumat (29/11/2019), produksi pabrik di Negeri Sakura turun 4,2 persen pada Oktober 2019 dari bulan sebelumnya.

Raihan tersebut sebanding dengan penurunan terburuk dalam lima setengah tahun terakhir sekaligus turun lebih dua kali lipat dari yang diperkirakan para ekonom.

Penurunan tajam ini terjadi ketika pemerintah mempertimbangkan paket stimulus untuk membantu perekonomian mengatasi dampak negatif dari hantaman topan, perlambatan global, dan kenaikan pajak penjualan Oktober terhadap konsumen.

Sehari sebelum rilis data produksi industri, penjualan ritel Jepang dilaporkan anjlok pada Oktober akibat terdampak kenaikan pajak penjualan dan topan super.

Penjualan ritel turun tajam 14,4 persen pada Oktober 2019 dari bulan sebelumnya, lebih besar dari penurunan yang dialami pascakenaikan pajak serupa lima tahun lalu.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Menurut para analis, usai rilis laporan data penjualan ritel, dampak cuaca ekstrem ternyata lebih besar dari perkiraan semula. Badai Super Typhoon membuat pembeli tak beranjak dari rumah masing-masing selama akhir pekan yang panjang pada Oktober.

Pada saat yang sama, langkah-langkah pemerintah untuk memperlunak dampak dari kenaikan pajak pada Oktober mungkin kurang efektif dari yang diharapkan.

"Pabrik-pabrik mengurangi produksi menyusul dampak dari pajak penjualan dan topan. Kondisi ini membuat lebih mudah untuk menyerukan adanya paket stimulus besar,” ujar Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute.

Sebuah laporan terpisah pada Jumat menunjukkan harga konsumen inti Tokyo, indikator utama tren harga nasional, naik 0,6 persen pada November, sesuai dengan perkiraan median dari para ekonom.

Sementara itu, tingkat pengangguran berada di level 2,4 persen pada Oktober, sesuai dengan perkiraan para ekonom dan sedikit di atas level terendahnya dalam beberapa dekade, menurut data kementerian urusan dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi jepang
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top