Dampak Topan Super, Penjualan Ritel Jepang Anjlok pada Oktober

Penjualan ritel Jepang dilaporkan anjlok pada Oktober akibat terdampak kenaikan pajak penjualan dan topan super.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 November 2019  |  10:03 WIB
Dampak Topan Super, Penjualan Ritel Jepang Anjlok pada Oktober
Bendera Jepang - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Penjualan ritel Jepang dilaporkan anjlok pada Oktober akibat terdampak kenaikan pajak penjualan dan topan super.

Menurut data Kementerian EkonomiJepang, penjualan ritel turun tajam 14,4 persen pada Oktober 2019 dari bulan sebelumnya, lebih besar dari penurunan yang dialami pascakenaikan pajak serupa lima tahun lalu.

Pemerintahan PM Shinzo Abe telah berupaya menghindari penurunan yang dialami pada 2014, ketika kenaikan pajak menyebabkan penurunan belanja konsumen dan kontraksi sebesar 7,3 persen dalam pertumbuhan triwulanan. Saat itu, penjualan ritel merosot 13,7 persen secara month-on-month.

Penurunan pada Oktober 2019 sekaligus adalah yang terburuk dalam catatan data kementerian ekonomi sejak tahun 2002 dan lebih besar dari perkirakan ekonom untuk penurunan penjualan 10,4 persen.

“Pembelian mobil dan peralatan turun dua digit. Penjualan juga dirugikan oleh penurunan turis asing termasuk dari Korea Selatan, yang terlibat dalam pertikaian diplomatik dengan Jepang,” ungkap seorang pejabat kementerian ekonomi, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Data Kementerian Ekonomi Jepang menunjukkan pembelian mobil merosot 17 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, sementara penjualan peralatan turun 15 persen pada Oktober.

Menurut para analis, usai rilis laporan data penjualan ritel, dampak cuaca ekstrem ternyata lebih besar dari perkiraan semula.

Azusa Kato, seorang ekonom di BNP Paribas SA, berpendapat bahwa penurunan pengeluaran konsumen pada Oktober mungkin bukan alasan untuk kekhawatiran yang berlebihan karena kondisi itu diperburuk oleh topan super.

Badai Super Typhoon membuat pembeli tak beranjak dari rumah masing-masing selama akhir pekan yang panjang pada Oktober.

“Tidak ada keraguan bahwa ekonomi akan menyusut kuartal ini, tetapi saya mengharapkan kenaikan setelah itu," ujar Kato.

Sejumlah ekonom memperkirakan PDB Jepang untuk kuartal IV/2019 akan menyusut 2,7 persen, karena langkah-langkah pemerintah, termasuk keringanan pajak atas pembelian mobil dan rumah memperlunak pukulan yang dibandingkan dengan tahun 2014.

Pada Senin (25/11/2019), Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kebijakan-kebijakan itu telah menunjukkan efeknya tetapi pemerintah diimbau untuk mempertahankannya lebih lama.

Pengeluaran konsumen diketahui sangat penting bagi pertumbuhan Jepang tahun ini karena ketegangan perdagangan global dan lesunya permintaan teknologi telah membebani ekspor.

“Penurunan tajam dalam penjualan ritel pada Oktober setelah kenaikan pajak penjualan menimbulkan kekhawatiran bahwa pengeluaran konsumen lebih rapuh dari yang kita perkirakan,” papar Yuki Masujima, ekonom Bloomberg.

“Pukulan terhadap pengeluaran akibat topan yang kuat juga ikut berperan, jadi data itu mungkin tampak berlebihan. Meski begitu, penjualan barang tahan lama merosot, berbeda dengan ketahanan relatif yang terlihat dalam data sebelumnya tentang pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, ekonomi jepang

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top