Mengapa Hunian Dekat Jalan Tol Lebih Diminati daripada TOD?

Ada beberapa kendala dalam melakukan penjualan dari kedua konsep, salah satunya masalah harga.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 18 November 2019  |  07:52 WIB
Mengapa Hunian Dekat Jalan Tol Lebih Diminati daripada TOD?
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Transit Oriented Development (TOD) atau rumah susun terintegrasi dengan sarana transportasi yang berdekatan dengan stasiun kereta rel listrik (KRL) Commuterline Tanjung Barat di Jakarta, Kamis (11/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Perkembangan infrastruktur yang begitu pesat saat ini dapat menjadi nilai tambah bagi properti-properti yang dijual di sekitarnya. Penjual banyak mengedepankan nilai seperti akses yang lebih mudah karena dekat dengan jalan tol atau terintegrasi karena dekat dengan moda transportasi massal.

Dalam pengembangan hunian dengan kedua konsep, antara transit oriented development (TOD) dan kawasan hunian yang dekat dengan jalan tol, menurut Manager Research and Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni, masyarakat masa kini cenderung masih memilih kawasan hunian yang dekat dengan jalan tol.

Angra menyebutkan bahwa kedua konsep memiliki kelebihan masing-masing. Keberadaan kawasan yang terintegrasi dengan moda transportasi atau TOD, bisa membantu penghuni menghemat waktu dan biaya, memberi dampak positif terhadap udara dan lingkungan karena berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi, dan dapat mengurai atau terhindar dari kemacetan.

“Hal ini bisa meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menjangkau pusat-pusat aktivitas yang lebih banyak dan beragam,” katanya kepada Bisnis, Minggu (17/11).

Adapun, kelebihan properti yang dekat dengan jalan tol, kata Angra, adalah aksesibilitas yang baik terhadap berbagai tujuan atau pusat aktivitas dan menghemat waktu tempuh perjalanan.

“Secara umum sama-sama mempersingkat waktu tempuh. Semisal, dulu kalau dipikir rasanya Depok ke Jakarta jauh sekali, sekarang ada tol yang Margonda langsung ke Cawang, misalnya, ada juga kereta dan keretanya sudah nyaman, jadi terasa lebih dekat.”

Sementara itu, ada beberapa kendala dalam melakukan penjualan dari kedua konsep, salah satunya masalah harga.

Angra menyebutkan bahwa sejatinya properti dengan konsep TOD sebaiknya merupakan properti yang harganya terjangkau, terutama untuk konsumen pada segmen menengah yang memiliki mobilitas tinggi ke pusat kota.

Di sisi lain, kemampuan untuk membeli properti di kota besar cukup terbatas sehingga membutuhkan tempat tinggal yang terintegrasi langsung dengan multimoda transportasi massal. Namun, kenyataannya saat ini, makin dekat dengan moda transportasi massal dan dekat dengan jalan tol, harga properti malah makin mahal dan harganya terus naik.

Kemudian, kesadaran konsumen untuk berpindah dari transportasi pribadi ke transportasi massal juga dinilai masih minim. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa orang masih memiliki kecenderungan memilik pengembangan yang dekat dengan jalan tol.

“Untuk bisa membuat masyarakat memilih TOD, perlu upaya untuk mendidik dan menyadarkan masyarakat saat ini mengenai kelebihan-kelebihan properti yang terintegrasi dengan moda transportasi umum,” katanya.

Selanjutnya, menurut Angra, belum ada pengembangan yang benar-benar sesuai dengan standar TOD sehingga konsumen masih banyak pertimbangan untuk memutuskan membeli.

“Beberapa pertimbangannya, misalnya, walaupun dekat kereta, interval kedatangannya masih lama. Kemudian, ada beberapa pengembangan yang sebutannya saja TOD, tapi untuk sampai ke stasiun atau terminal masih harus naik ojek dulu atau masih jauh dijangkau dengan jalan kaki. Ya, jadi, belum sepenuhnya TOD.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
superblok, tod

Editor : Zufrizal
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top