Menyambut Seabad Generasi Emas yang Cemas Karena Rokok

Politikus PDI Perjuangan Hasbullah Thabrany menuturkan bila ingin memiliki generasi emas pada 2045, maka pemerintah harus serius mengendalikan konsumsi rokok.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 08 November 2019  |  20:17 WIB
Menyambut Seabad Generasi Emas yang Cemas Karena Rokok
8nov/bisnis/grafik/rokok/tri/utomo

Dalam pelantikan 20 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia kini sedang berada di puncak bonus demografi. Saat ini, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang tak produktif.

Kondisi tersebut masih terus berlanjut hingga 2045. Dalam 26 tahun lagi, Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-100.

Jokowi menyampaikan bonus demografi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Akan menjadi tantangan dan masalah, bila tidak ada lapangan pekerjaan bagi generasi muda produktif.

Politikus PDI Perjuangan Hasbullah Thabrany menuturkan bila ingin memiliki generasi emas pada 2045, maka pemerintah harus serius mengendalikan konsumsi rokok. Sebab rokok memiliki zat adiktif dan hal tersebut akan menyulitkan perokok untuk terbebas dari rasa candu tersebut.

“Rokok memberikan dampak buruk bagi kesehatan dan menjadi celah untuk masuknya barang-barang terlarang,” katanya.

Menurutnya, mengendalikan konsumsi dengan cara menaikkan tarif cukai saja tidak cukup. Masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa rokok menimbulkan candu dan berbahaya bagi kesehatan.

Dia menyebutkan saat tarif cukai mengalami penaikan maka perusahaan rokok tetap mencatatkan kenaikan pendapatan hingga 10%. Menurutnya, sangat tidak ada alasan mengkhawatirkan dampak negatif dari penarikan cukai, apalagi sampai membawa isu pengurangan tenaga kerja dalam industri rokok atau bagi petani tembakau.

“Kenaikan cukai akan diikuti kenaikan harga akan menaikan pendapatan industri rokok dan menaikan harga jual tembakau,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (31/10/2019).

Indonesia kini menjadi pangsa pasar yang empuk bagi industri rokok. Banyaknya generasi muda dan produktif menjadi peluang untuk menggantikan perokok yang telah sakit dan mati.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan angka prevalensi perokok pemula yakni pada usia 10-18 tahun mencapai 9,1 persen. Tercatat, adanya peningkatan dari posisi 7,2 persen pada 2013.

Tingginya angka prevalensi perokok pemula ini tak lepas dari fakta bahwa Indonesia diserbu iklan rokok dan ditahbiskan sebagai negara dengan penjualan rokok terbanyak di Asia Tenggara sejak 2016.

Namun, hal ini akan menjadi kesempatan besar, jika Indonesia mampu membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan didukung oleh ekosistem politik dan ekosistem ekonomi yang kondusif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri rokok, Cukai Rokok

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top