Ditjen Bea Cukai Optimistis Bisa Capai Target Penerimaan

Kepala Sub Direkrorat Komunikasi dan Publikasi Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan, penerimaan bea masuk hingga akhir tahun 2019 dihadapkan pada kondisi tren pelemahan aktifitas impor nasional, sebagai dampak situasi perlambatan perekonomian global.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 01 November 2019  |  10:53 WIB
Ditjen Bea Cukai Optimistis Bisa Capai Target Penerimaan
Petugas Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah cukup optimistis target penerimaan bisa sesuai dengan ekspektasi meski dibayangi risiko pelemahan di sejumlah sektor penerimaan.

Kepala Sub Direkrorat Komunikasi dan Publikasi Bea Cukai Deni Surjantoro mengatakan, penerimaan bea masuk hingga akhir tahun 2019 dihadapkan pada kondisi tren pelemahan aktifitas impor nasional, sebagai dampak situasi perlambatan perekonomian global.

Alhasil komponen penerimaan yang fundamentalnya sama dengan BM, seperti PPN Impor dan PPh Impor, mengalami tekanan yang sama.

Di satu sisi, kebijakan pengendalian impor, seperti kebijakan penyesuaian tarif PPh Impor terhadap 1147 jenis komoditas, bisa mengurangi kinerja harian impor 1147 jenis komoditas dibandingkan dengan sebelum kebijakan diterapkan.

"Akan tetapi, karena porsinya yang hanya sekitar 4 persen dari total impor nonmigas, maka bisa dibilang efeknya tidak signifikan menekan penerimaan," kata Deni kepada Bisnis.com, Kamis (31/10/2019).

Adapun soal penerimaan cukai bila dirata-rata, adalah 1/3 pada semester I dan 2/3 di semester II. Tren itu merupakan dampak dari peraturan Menteri Keuangan No. 20/PMK.04/2015 tentang Penundaan Pembayaran Cukai yang mewajibkan pelunasan CHT dilakukan tidak melewati tahun anggaran berjalan.

"Karena CHT berkontribusi sekitar 75%, maka kemudian mengakibatkan pembayarannya menumpuk di akhir tahun," jelasnya.
.
Berdasarkan tren pertumbuhan semua komponen penerimaan dan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhinya terutama kondisi penerimaan BM dan BK yang tertekan, penerimaan kepabeanan dan cukai menghadapi risiko berada di bawah target yang ditetapkan.

Namun demikian, masih ada potensi lonjakan penerimaan pada akhir tahun (dampak PMK 20) yang tahun ini tinggal 1 bulan (pelunasan CK1 Nov), dan potensi respons pabrikan terhadap kebijakan penyesuaian tarif per 1 Jan 2020 (forestalling).

Dengan demikian, DJBC tetap optimistis dapat mengamankan target walaupun tetap terus memasang kewaspadaan atas potensi risiko yang dijelaskan di awal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ditjen bea cukai

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top