Pemerintah Harus Segera Perbaiki Perlambatan Ekonomi

Founder lembaga riset dan kebijakan ekonomi Sigma Phi Indonesia Arif Budimanta menilai kendati pertumbuhan ekonomi masih positif, tetapi penurunan tingkat pertumbuhan patut diperhatikan secara seksama oleh pemerintah. Hal ini perlu menjadi peringatan perekonomian Indonesia tengah menghadapi problem struktural sehingga belum mampu tumbuh secepat yang diharapkan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 November 2019  |  10:26 WIB
Pemerintah Harus Segera Perbaiki Perlambatan Ekonomi
Arif Budimanta, Anggota KEIN. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Perlambatan ekonomi yang mulai terlihat di Indonesia menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperbaikinya.

Founder lembaga riset dan kebijakan ekonomi Sigma Phi Indonesia Arif Budimanta menilai kendati pertumbuhan ekonomi masih positif, tetapi penurunan tingkat pertumbuhan patut diperhatikan secara seksama oleh pemerintah. Hal ini perlu menjadi peringatan perekonomian Indonesia tengah menghadapi problem struktural sehingga belum mampu tumbuh secepat yang diharapkan.

"Selain itu, ekonomi nasional diperburuk dengan kondisi ekonomi global yang melambat dan risiko ketidakpastian yang meningkat," katanya melalui keterangan resminya, Rabu (6/11/2019).

Angka pertumbuhan PDB yang dirilis pada Selasa (5/11/2019) oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2019 sebesar 5,02% (yoy). Angka ini menurun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,05%.

Arif mengatakan, nilai Komponen Ekspor Bersih maupun Investasi yang menjadi tumpuan pertumbuhan dan mengubah struktur PDB justru mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Akibatnya, struktur PDB Indonesia hingga saat ini masih sangat bergantung oleh sektor konsumsi.

Selain itu, dibandingkan dengan periode yang sama 2018, nilai investasi dan ekspor bersih terhadap pertumbuhan telah menurun. Pada 2018 pembentukan modal tetap bruto (PMTB) memiliki andil 2,24% terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan pada tahun ini hanya 1,38%.

Kendati angka ekspor bersih membaik dari -1,1% pada kuartal III/2018 menjadi 1,81% pada kuartal III/2019, kenaikan ini lebih disebabkan oleh angka impor yang terkontraksi 8,61% (yoy), sedangkan ekspor hanya tumbuh 0,02%.

Arif melanjutkan, pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah yang hanya tumbuh 0,98% cukup mengejutkan. Pasalnya, pada kuartal III dan IV konsumsi pemerintah umumnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Lebih lanjut, Arif mengatakan selain meningkatkan belanja pemerintah pada kuartal berikutnya, masih ada potensi ekonomi lain yang masih bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan tren penurunan suku bunga di tingkat global.

"Penurunan yang diiringi dengan banjir likuiditas di pasar keuangan global dapat dimanfaatkan mendorong kemajuan UMKM di Indonesia," jelasnya.

Kedua, dengan menerapkan strategi pertumbuhan regional, yakni pemetaan dan pengembangan potensi daerah secara intensif dan komprehensif. Ia menilai hal ini dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat.

"Pemerintahan baru harus memberikan harapan baru sehingga memberikan optimisme kepada pasar, karena pasar mengharapkan gebrakan baru dari tim ekonomi pada Kabinet Indonesia Maju," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top