Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Pengguna Uber di Bawah Ekspektasi

Di sisi lain, perusahaan ride-hailing tersebut mencatatkan pendapatan yang melampaui perkiraan, memperbaiki proyeksi kerugian tahunannya dan berjanji untuk menghasilkan laba pada 2021.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 05 November 2019  |  12:37 WIB
Layanan taksi Uber. - Reuters
Layanan taksi Uber. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Uber Technologies Inc. mengecewakan para investor dengan pelemahan pertumbuhan jumlah pemesanan dan pengguna aktif bulanan, dua metrik yang paling dipantau oleh Wall Street.

Di sisi lain, perusahaan ride-hailing tersebut mencatatkan pendapatan yang melampaui perkiraan, memperbaiki proyeksi kerugian tahunannya dan berjanji untuk menghasilkan laba pada 2021.

Akan tetapi, hal itu tidak cukup untuk mengangkat saham, yang turun sekitar 5% dalam perdagangan yang diperpanjang setelah laporan keuangan kuartalan dirilis.

Dilansir melalui Bloomberg, perusahaan yang berbasis di San Francisco ini berusaha meyakinkan para investor bahwa mereka dapat berevolusi dari layanan kendaraan ke platform transportasi global all-in-one.

Diperkirakan ada lebih banyak tekanan bagi saham Uber pada Rabu (6/11/2019), ketika stock lockup untuk sebagian besar pemegang saham berakhir.

Menurut Renaissance Capital, ada tambahan sekitar 1,5 miliar saham yang memenuhi syarat untuk diperdagangkan atau hampir dua kali lipat jumlah total yang beredar.

Di antara perusahaan-perusahaan yang didukung oleh dana ventura, hanya Alibaba Group Holding Ltd. yang memiliki penguncian saham lebih besar 1,6 miliar.

Ali Mogharabi, seorang analis di Morningstar, mengatakan sementara hasil keseluruhan Uber baik, ketidakpastian tentang kemungkinan saham baru membanjiri pasar mungkin telah menekan harga saham korporasi.

"Mungkin ada sebagian pemegang saham yang memilih untuk keluar sekarang, untuk menghindari kemungkinan penurunan pada Rabu," ujarnya, dikutip melalui Bloomberg, Selasa (5/11/2019).

Meskipun Uber mungkin masih butuh beberapa tahun lagi untuk untung, target ini lebih awal dari yang diperkirakan analis.

Uber menutup kuartal ketiga dengan dana tunai sebesar US$12,7 miliar, menunjukkan bahwa dia dapat terus berinvestasi untuk mendorong pertumbuhan melalui celah yang tidak akan menyebabkan kerugian tambahan.

Kerugian yang disesuaikan untuk kuartal ketiga melebar menjadi US$585 juta, dibandingkan dengan US$485 juta selama periode yang sama tahun lalu, tetapi masih lebih baik dari rata-rata perkiraan analis yakni sekitar US$808 juta.

Pendapatan yang disesuaikan setiap triwulan meningkat 33% menjadi US$3,5 miliar, di atas perkiraan US$3,39 miliar. Uber merevisi perkiraan kerugian tahunannya menjadi US$2,8 miliar-US$2,9 miliar, meningkat sebesar US$250 juta.

Uber perlu berbuat lebih untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Pengguna aktif bulanan, atau mereka yang rutin memesan makanan atau kendaraan satu kali atau lebih selama kuartal tersebut, berjumlah 103 juta, naik 26%.

Nilai pemesanan kotor, ukuran total pemesanan kendaraan, pesanan makanan, dan bisnis lainnya, adalah sebesar US$16,5 miliar, dibandingkan dengan perkiraan US$16,7 miliar. Khusus untuk pengiriman makanan, performanya sangat mengecewakan.

STRATEGI PENGHEMATAN

Eksekutif Uber mengatakan perusahaan tidak akan begitu agresif dalam membelanjakan modal menghasilkan laba yang disesuaikan pada 2021.

"Kami akan mendorong disiplin di seluruh perusahaan dan hanya melakukan investasi yang kami mampu," kata Chief Executive Officer Dara Khosrowshahi.

Khosrowshahi telah berusaha mengendalikan pengeluaran, memotong sekitar 1.200 karyawan di kantor Uber.

Seperti saingannya, Lyft Inc., Uber juga mengurangi diskon bagi pengendara dan insentif pengemudi dalam upaya meningkatkan margin dan memperkecil kerugian.

Khosrowshahi mengatakan bahwa Uber akan keluar dari pasar dan menghapus aset jika tidak dapat bertahan pada posisi pertama atau kedua dalam 18 bulan ke depan.

Strategi bisnis Uber bergantung pada meyakinkan pelanggan yang sudah menggunakan fitur ride-hail untuk memanfaatkan lebih banyak layanannya, termasuk sepeda, skuter, helikopter dan transportasi umum, serta pengiriman makanan dan belanja bahan makanan.

Inisiatif baru Uber, termasuk layanan pencocokan pekerjaan untuk pencari pekerja di Chicago dan layanan keuangan untuk pengemudi, menunjukkan ambisi besar perusahaan.

Sejak go public pada Mei, investor Uber telah mengkritik strategi pertumbuhan perusahaan yang menghalakan segala cara.

Perdagangan saham Uber, yang ditutup pada Senin (4/11/2019) berakhir pada US$31,08, jauh di bawah harga IPO US$45.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Uber Technologies
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top