Harga Daging Babi Melonjak, Inflasi China Diyakini Naik Jadi 4 Persen

Sebagai imbas dari lonjakan harga daging babi, inflasi konsumen bulanan China diperkirakan dapat mencapai 4 persen pada awal 2020.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Oktober 2019  |  14:03 WIB
Harga Daging Babi Melonjak, Inflasi China Diyakini Naik Jadi 4 Persen
Daging babi yang dijual terlihat di sebuah pasar di Beijing, Cina 26 Desember 2018. - REUTERS/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai imbas dari lonjakan harga daging babi, inflasi konsumen bulanan China diperkirakan dapat mencapai 4 persen pada awal 2020.

Kondisi tersebut dipandang akan mempersulit upaya Bank Sentral Negei Tirai Bambu untuk mendukung perekonomian lebih lanjut.

Indeks harga konsumen China sendiri naik 3 persen pada September 2019 dari tahun sebelumnya, sekaligus mencapai target inflasi pemerintah untuk tahun 2019.

Namun menurut Ekonom di China International Capital Corp. (CICC) dan Lianxun Securities Co., tekanan untuk harga naik terus meningkat karena jumlah induk babi terus menyusut tajam.

“Oleh karenanya, inflasi indeks harga konsumen (IHK) kemungkinan akan mencapai 4 persen pada Desember atau Januari 2020 karena basis yang rendah,” papar mereka, seperti dilansir melalui Bloomberg (Rabu, 23/10/2019).

Terakhir kali China mencatatkan indeks harga konsumen (IHK) mencapai 4 persen atau lebih tinggi adalah pada tahun 2012. Sementara itu, menurut prediksi ekonom dalam survei Bloomberg, inflasi IHK dapat mencapai rata-rata 2,4 persen pada tahun 2020.

Menurut data Shanghai JC Intelligence Co., sebuah perusahaan konsultan yang berspesialisasi dalam komoditas pertanian, China memiliki sekitar 19 juta induk babi pada akhir September. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah rata-rata dalam lima tahun yakni 34 juta.

“Masih terlalu dini untuk menentukan kemungkinan 'puncak' untuk putaran inflasi harga daging babi ini,” tulis Eva Yi, ekonom senior di CICC, dalam sebuah catatan.

“Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjadi salah satu hambatan untuk langkah pelonggaran dalam waktu dekat dan mungkin ada lebih banyak ruang untuk pelonggaran fiskal dibandingkan dengan pelonggaran moneter,” lanjut Yi.

Meski angka inflasi inti China stabil, inflasi yang didorong oleh babi telah menjadi keprihatinan bagi pembuat kebijakan karena kekhawatiran hal ini akan menaikkan harga daging dan produk makanan berbasis protein lainnya, sekaligus merusak kemampuan rumah tangga untuk mengkonsumsi.

Sementara itu, deflasi pada harga pabrik dapat membebani laba perusahaan dan membuat pembayaran utang menjadi lebih sulit.

People's Bank of Chian (PBOC) mengumumkan pemangkasan jumlah dana yang harus disimpan bank pada bulan September. Akan tetapi, para pembuat kebijakan bank sentral China tersebut menahan penurunan suku bunga pinjaman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china, babi

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top