Ekspor Jepang Catat Rentetan Penurunan Terpanjang Sejak 2016

Lesunya permintaan luar negeri terus membebani kinerja produsen Jepang. Dampaknya, ekspor Negeri Sakura pun mencatat penurunan bulan ke-10 berturut-turut pada September.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  12:20 WIB
Ekspor Jepang Catat Rentetan Penurunan Terpanjang Sejak 2016
Industri di Jepang. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Lesunya permintaan luar negeri terus membebani kinerja produsen Jepang. Dampaknya, ekspor Negeri Sakura pun mencatat penurunan bulan ke-10 berturut-turut pada September.

Menurut laporan yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang pada Senin (21/10/2019), pengiriman ke luar negeri turun 5,2 persen pada September 2019, sekaligus mengalami rentetan penurunan beruntun terpanjang sejak 2016.

Penurunan tersebut jauh lebih buruk daripada estimasi median para ekonom untuk penurunan sebesar 3,7 persen. Penurunan pada onderdil mobil dan peralatan pembuatan semikonduktor dilaporkan menjadi salah satu penekan ekspor pada September.

“Data ekspor itu tidak menggembirakan, bahkan jika gencatan senjata perdagangan (Amerika Serikat-China) menawarkan secercah harapan bahwa tren ekspor yang suram akan membaik,” ujar Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute.

“Mengingat ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi, ada risiko kita akan melihat kekhawatiran meningkat atas ekonomi Jepang yang jatuh ke dalam resesi,” tambah Minami, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Meski gencatan senjata dalam perang perdagangan AS-China dapat menurunkan risiko yang dihadapi oleh ekonomi global, masih harus dilihat bagaimana proses ini akan berkembang dan apa pengaruhnya terhadap perdagangan di dalam dan luar negeri.

Bulan ini, Bank of Japan (BoJ) akan mencermati dampak pelemahan ekonomi di luar negeri terhadap ekonomi domestik dan inflasi.

Sebagian analis melihat adanya tinjauan sebagai sinyal tindakan yang akan datang dari bank sentral Jepang tersebut. Pertanyaan kritis bagi BoJ adalah apakah pelemahan dalam ekspor akan menjalar kie permintaan domestik dan menurunkan inflasi.

“Berlanjutnya penurunan dalam perdagangan Jepang tampak tidak menggembirakan sebelum review bank sentral tentang dampak perlambatan global pada pertumbuhan dan harga akhir bulan ini. Namun, kami percaya tren saat ini tidak menyimpang banyak dari skenario baseline Bank Jepang pada saat ini,” tutur Yuki Masujima, ekonom Bloomberg.

Sejalan dengan ekspor, impor Jepang dilaporkan turun 1,5 persen pada September. Meski demikian, penurunan ini lebih kecil daripada estimasi media ekonom untuk penurunan sebesar 2,8 persen.

Ekspor Jepang ke China dan Amerika Serikat masing-masing melorot 6,7 persen dan 7,9 persen pada periode tersebut.  

Pengiriman suku cadang otomotif secara keseluruhan merosot 14,7 persen dan ekspor peralatan pembuatan cip meluncur 12,9 persen. Sementara itu, neraca perdagangan Jepang mencatat defisit 123 miliar yen (US$1,1 miliar), lebih buruk dari perkiraan ekonom untuk surplus sebesar 54 miliar yen.

Di sisi lain, ada pula ekonom yang berpendapat bahwa siklus TI (teknologi informasi) global mungkin telah mencapai titik terendahnya sehingga bisa memberikan dorongan bagi ekspor Jepang ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang, perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top