Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Listrik Swasta Minta Peluang Investasi Diperluas

Produsen listrik swasta mengharapkan peluang investasi di sektor pembangkit listrik semakin terbuka pada periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  13:20 WIB
Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal
Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen listrik swasta mengharapkan peluang investasi di sektor pembangkit listrik semakin terbuka pada periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 

Berdasarkan data yang Bisnis terima, dari megaproyek 35.000 MW, sebanyak 8,8 GW dikerjakan PT PLN (Persero) dan 26,6 GW dikerjakan produsen listrik swasta (independent power producer/IPP). 

Direktur Eksekutif  Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Rizal Calvary Marimbo mengatakan dengan semakin banyak investasi pembangkit listrik oleh produsen swasta, tarif listrik akan mampu ditekan semakin murah. Pasalnya, para pengusaha swasta akan bersaing untuk memberikan harga termurahh.

Selain itu, investasi yang dilakukan produsen swasta juga dinilai akan membantu keuangan PLN sehingga perseroan tersebut dapat fokus melakukan perawatan maupun penanaman modal pada jaringan transmisi. 

"Pemerintah kan menargetkan investasi kelistrikan begitu besar, tidak bisa dieksekusi sendiri oleh PLN. Investasi 35.000 MW besarnya dapat mencapai Rp1.200 triliun, kalau dikerjakan PLN sendiri maka akan membebani keuangannya," katanya kepada Bisnis, Minggu (20/10/2019). 

Menurutnya, apabila PLN lebih fokus pada pengembangan maupun perawatan jaringan, kejadian blackout yang terjadi pada Agustus lalu di Jawa bagian barat dapat dihindari. Sementara itu, jika PLN melakukan investasi tidak hanya pada jaringan tetapi juga pembangkitan, dinilai tidak tepat untuk keuangan perseroan. 

Rizal menilai biaya investasi di sistem transmisi untuk mendukung megaproyek 35.000 MW tidak sedikit, yakni bisa mencapai Rp500 triliun. 

Menurutnya, sebagai BUMN, PLN dapat membagi tugas pembangunan pembangkitan ke swasta, termasuk anak usaha sendiri. Dengan demikian, PLN tinggal fokus pada pembangunan maupun pemeliharaan jaringan transmisi sehingga dapat menghindari pemadaman  

"Besar sekali tanggung jawab PLN, tidak bisa bekerja sendirian. Di hulu [pembangkit] perlu dibantu oleh swasta," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembangkit listrik Jokowi
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top