Kementan Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Wabah Demam Babi Afrika

Kementerian Pertanian meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran wabah penyakit hewan demam babi Afrika atau African swine fever (ASF) ke Indonesia. 
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  15:07 WIB
Kementan Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Wabah Demam Babi Afrika
Peternakan babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran wabah penyakit hewan demam babi Afrika atau African swine fever (ASF) ke Indonesia. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengatakan, berdasarkan kajian analisa risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia. Beberapa di antaranya melalui pemasukan daging babi dan produk babi lainnya, sisa-sisa katering transportasi internasional baik dari laut maupun udara, serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kontak dengan babi di lingkungannya. 

Dia menerangkan, tindakan kewaspadaan dini ASF telah dimulai sejak adanya notifikasi kejadian wabah ASF di China pada September 2018. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis yang meliputi deteksi cepat, pelaporan sigap, dan penanganan tepat. 

Hal yang mengkhawatirkan dari penyebaran penyakit ASF ini, kata Ketut,  adalah belum ditemukannya vaksin untuk pencegahan penyakit dan virusnya sangat tahan hidup di lingkungan, serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. 

Hal tersebut yang menyebabkan penyebaran ASF sulit ditahan di banyak negara, termasuk negara-negara maju seperti di kawasan Eropa. "Penyakit ini merupakan ancaman bagi populasi babi di Indonesia yang mencapai kurang lebih 8,5 juta ekor," ujar Ketut dikutip dari keterangan pers, Selasa (15/10/2019).

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF.

"Saya menyadari mempertahankan status bebas ASF merupakan tantangan yang sangat besar, namun kita harus tetap optimistis dan berkontribusi seoptimal mungkin," imbuhnya.

Sementara itu, Kementan telah menyusun pedoman kesiapsiagaan darurat veteriner ASF (Kiatvetindo ASF). Terdapat empat tahapan pengendalian dan penanggulangan apabila terjadi kasus ASF, yakni tahap investigasi, tahap siaga, tahap operasional, dan tahap pemulihan.

Langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik. Ketut juga meminta daerah yang berisiko tinggi untuk dapat segera dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif.

"Penerapan biosekuriti yang benar perlu dipahami oleh seluruh peternak, khususnya peternak babi sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk memotivasi peternak dengan memberikan informasi dan edukasi," tegasnya.

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyampaikan, Kementan telah memperkuat penyidikan dan pengawasan penyakit hewan untuk mengantisipasi penyebaran ASF masuk ke wilayah Indonesia. Laboratorium Indonesia juga sudah siap untuk mendeteksi penyakit ini melalui Balai Veteriner dan Balai Besar Veteriner di seluruh Indonesia. 

Anak Agung Gede Putra, salah satu anggota Komisi Ahli Kesehatan Hewan Kesmavet dan Karantina Hewan, menuturkan pencegahan di negara-negara yang belum terinfeksi dapat dilakukan apabila petugas dan masyarakat mempunyai pengetahuan yang baik tentang ASF dan menerapkan manajemen populasi babi liar dengan tepat. 

Untuk mencegahnya diperlukan kebijakan pemerintah dalam memastikan bahwa tidak ada babi hidup atau olahannya dari wilayah tertular yang masuk ke wilayah bebas. Peternak babi juga diimbau tidak melakukan pemberian pakan yang bersumber dari sisa-sisa makanan (swill feed) yang tidak diolah/dipanaskan terlebih dahulu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementan, peternakan, virus demam babi Afrika

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top