Pengembangan Rayon, RGE Investasikan US$200 Juta

Investasi itu direalisasikan secara bertahap untuk tiga bidang pengembangan.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  22:00 WIB
Pengembangan Rayon, RGE Investasikan US$200 Juta
Ilustrasi - APR

Bisnis.com, JAKARTA - Grup manufaktur global, Royal Golden Eagle (RGE), bakal menginvestasikan US$200 juta dalam 10 tahun ke depan untuk penelitian dan pengembangan serat tekstil selulosa (cellulosic textile fibre) atau rayon.

Investasi yang diumumkan menjelang Textile Exchange Sustainability Conference di Vancouver, Kanada, itu diyakini akan mendukung hadirnya solusi alternatif bagi pemanfaatan bahan baku tekstil lainnya.

Rayon atau viscose merupakan bahan tekstil selulosa jenis cellulosic filament (CF) yang diperoleh dari ekstraksi serat bubur kayu larut atau dissolving pulp.

Bey Soo Khiang, Wakil Ketua RGE, menjelaskan bahwa nantinya investasi itu direalisasikan secara bertahap untuk tiga bidang pengembangan. Sekitar 70% investasi akan dialokasikan untuk upaya peningkatan teknologi bersih (celan technology) dalam pembuatan serat, sedangkan masing-masing 20% dan 10% untuk pengembangan produksi percontohan bagi skala komersial dan pengembangan research and development.

Menurutnya, pengembangan serat tekstil selulosa ini dilakukan lantaran dinilai potensial. Apalagi, RGE memiliki lini produksi pulp, serat dan benang yang terintegrasi.

Dengan begitu, RGE memiliki lini produksi yang lengkap di hulu sektor tekstil sehingga mampu mendukung produksi di sektor hilir untuk skala komersial.

“Ini adalah area pertumbuhan bisnis yang strategis untuk RGE. Kami bercita-cita tidak hanya untuk menjadi produsen viscose terbesar tetapi juga menjadi pemimpin dalam produksi serat tekstil berkelanjutan melalui inovasi," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (15/10/2019).

Untuk produksi rayon, RGE saat ini memiliki dua anak usaha, yakni Sateri di China dan Asia Pacific Rayon (APR) di Indonesia. Dengan begitu, RGE menjadi produsen viscose terbesar di dunia dengan total kapasitas produksi tahunan sebesar 1,4 juta ton.

Sateri dan APR mendapatkan bubur kayu berbasis sumber dari perkebunan terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan di Indonesia dan Brasil melalui perusahaan yang dikelola RGE, Asia Pasific Resources International (APRIL) dan Bracell.

Ben Poon, Deputy Head APR, mengatakan komitmen investasi tersebut menjadi jawaban atas dua tantangan terkait lingkungan yang dihadapi industri tekstil saat ini. Dua tantangan yang mendesak untuk diselesaikan itu adalah meningkatnya permintaan serat sintetis dan alami untuk produksi tekstil dan peningkatan limbah tekstil.

"Daur ulang limbah tekstil menjadi bahan baku menjadi jawaban atas kedua masalah itu secara bersamaan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
serat rayon

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top