Binaan Kemenperin, SMAK Padang Cetak Lulusan Sesuai Kebutuhan Industri

Sekolah Menengah Analis Kimia (SMAK) Padang menjadi salah satu kisah sukses program link and match yang tengah dipacu Kementerian Perindustrian.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  12:27 WIB
Binaan Kemenperin, SMAK Padang Cetak Lulusan Sesuai Kebutuhan Industri
Kegiatan belajar mengajar di SMAK Padang. - Bisnis/Andi M. Arief

Bisnis.com, PADANG – Sekolah Menengah Analis Kimia (SMAK) Padang menjadi salah satu kisah sukses program link and match yang tengah dipacu Kementerian Perindustrian.

Sekolah binaan Kementerian Perindustrian ini mengklaim seluruh lulusannya pada akhirnya menjadi tenaga kerja di sektor industri.

“Sekolah kami untuk siap kerja, bukan untuk kuliah. Kami bisa menerima siswa yang ingin kuliah, tetapi kami utamakan [perguruan tinggi] yang sudah kerja sama [dengan kami],” ujar Kepala Sekolah SMAK Padang Nasir, Rabu (9/10/2019).

Nasir mengatakan 80% lulusan sekolahnya langsung mendapatkan tawaran bekerja di sektor manufaktur, 10% bekerja di sektor manufaktur dalam 1 bulan—3 bulan setelah lulus, sedangkan selebihnya melanjutkan perguruan tinggi yang telah bermitra. Adapun, lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi akan bekerja di sektor manufaktur setelah mendapatkan gelar.

Nasir mengatakan hal tersebut terjadi karena adanya penandatanganan nota kesepahaman antara pihak sekolah, orang tua, dan siswa. Selain itu, siswa SMAK Padang juga memiliki masa belajar 1 tahun lebih panjang, program magang industri selama 6 bulan, dan sertifikasi kompetensi dan profesi pada akhir masa belajar.

Pada tahun depan, pihaknya akan mengubah kurikulum sesuai dengan konsep dual system. Konsep ini menjadikan 50% waktu belajar di sekolah akan dialokasikan menjadi masa magang di sektor manufaktur. Siswa akan belajar di sekolah dan industri masing-masing selama 2 tahun.

Nasir menyatakan pihaknya akan memulai menerapkan kurikulum tersebut pada siswa semester 4 akan menjalani sistem pembelajaran dual system di industri sepanjang 2020. Dengan kata lain, akan ada kekosongan kapasitas sebesar 25% dari total kapasitas kelas sekolah.

“Kan 2 tahun di industri, [artinya] 2 tahun di sekolah kosong. 2020 jalan tapi 2024 [baru terimplementasi 100%]. Tahun depan baru bertambah sekitar 25% [dari total siswa],” ujarnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat dan Industri SMAK Padang Barwita Yusniana mengatakan pihaknya juga melakukan program magang pada seluruh guru produktif sekolah. Adapun, guru produktif menopang lebih dari 60% dari total guru. Adapun, sekolah memperbaharui kurikulum sekolah setiap masa magang guru dan siswa usai.

Selain penyesuaian kurikulum, sekolah juga memperbaharui peralatan yang digunakan dalam proses pengajaran kepada para siswa. Menurutnya, peralatan yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar di sekolah sama dengan mesin yang digunakan pada proses produksi industri kimia.

Barwita mengatakan SMAK Padang mendapatkan dana untuk pembelian mesin baru oleh bantuan Kemenperin. Adapun, satu buah mesin membutuhkan dana sekitar Rp400 juta.

Sementara itu, total kebutuhan tenaga kerja untuk sektor manufaktur pada tahun ini tumbuh 2,5% dari kebutuhan tahun lalu menjadi 619.732 orang. Adapun, kebutuhan lulusan SMK atau level operator mendominasi sebanyak 67,95% atau 421.120 orang.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Perindustrian Eko Cahyanto sebelumnya menyatakan tantangan sektor tenaga kerja di era pasar bebas Asean harus dihadapi salah satunya dengan menyiapkan lulusan yang siap bekerja di level menengah.

“Di Pasar bebas Asean kan lalu linta tenaga kerja tidak bisa kita batasi. Makanya, UU Ketenagakerjaan mau diatur mengenai itu, tapi kita harus siap juga mengisinya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenperin, industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top