Pencairan Dana Hibah BRT Terkendala di Daerah, Ini Masalahnya

Senior Governance Policy Advisor Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Zulazmi menuturkan tantangan dalam pelaksanaan program tersebut lebih banyak di daerah.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  15:29 WIB
Pencairan Dana Hibah BRT Terkendala di Daerah, Ini Masalahnya
BISNIS - Rinaldi M Azka

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaksanaan program hibah proyek percontohan bus rapid transit di Indonesia menghadapi tantangan komitmen dari pemerintah daerah yang masih ogah-ogahan.

Senior Governance Policy Advisor Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Zulazmi menuturkan tantangan dalam pelaksanaan program tersebut lebih banyak di daerah.

"Yang utama ingin kami lihat pertama komitmen pemda. Pemda sendiri sejauh yang kami lihat kewalahan dengan yang sudah ada, untuk menata ulang karena banyak rute-rute yang dialihkan dan sebagainya," katanya, Selasa (8/10/2019).

Kemenhub dan GIZ telah menandatangani kesepakatan implementasi proyek Sustainable Urban Transport Programme Indonesai (SUTRINAMA) dan komponen Indonesian Bus Rapid Transit Corridor Development Project (INDOBUS).

GIZ merupakan fasilitator antara pemerintah Indonesia dengan pemberi hibah yakni pemerintah Jerman, Swiss dan Inggris.

Lebih lanjut, dia menuturkan dari 21 juta euro dana atau setara Rp326 miliar yang ada dihabiskan sebagian besar untuk kajian pelaksanaan dan terdapat 8 juta euro untuk pengembangan infrastruktur hingga lajur bus.

Dalam persyaratan, 8 juta euro ini baru dapat dikeluarkan dengan komitmen pemerintah mengeluarkan dana sebesar 16 juta euro untuk mengembangkan infrastruktur BRT tersebut.

Pelaksanaan hibah ini sudah berlangsung sejak 2017 dan ditargetkan rampung pada 2022. Proses yang memakan waktu tersebut mengingat kajian yang dilakukan di daerah cukup pelik.

"Kajian-kajian itu katakan yang ada sekarang sudah ramai, kalau mau dialihkan pembebasan lahan tidak semudah yang dibayangkan," tuturnya.

Prosesnya berjalan sejak pertemuan awal dengan 25 kandidat kota percontohan pada Maret 2018 dilanjutkan dengan pemilihan shortlist kota-kota terpilih.

Reality check di kota Semarang, Pekanbaru, Bandung, dan Batam sepanjang 2018 lalu dilaksanakan Seminar Nasional Transportasi Membangun Negeri di Semarang pada Januari 2019.

Sejak Januari 2019 pun dilaksankaan formulasi Pra-Studi Kelayakan (PFS) BRT dengan jalur khusus di 3 kota, yakni Semarang, Bandung, dan Pekanbaru.

"Feasibility study [FS] akan jadi kelajutan kegiatan ini, setelah pra-FS sudah, kami mulai bulan depan masuk tahap FS, sama penyaluran dananya," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kemenhub, brt

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top