KABAR PASAR 4 OKTOBER: Ekonomi Digital RI Melesat, Pertumbuhan Ekonomi Maksimal 6%

Berita mengenai eknomi digital Indonesia yang tumbuh paling pesat di Asia Tenggara serta maksimal pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai tahun ini menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Jumat (4/10/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  08:12 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai eknomi digital Indonesia yang tumbuh paling pesat di Asia Tenggara serta maksimal pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai tahun ini menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Jumat (4/10/2019).

Berikut beberapa ringkasan topik utamanya:

Ekonomi Digital RI Melesat. Ekonomi digital Indonesia tumbuh paling pesat di Asia Tenggara dengan potensi pasar mencapai US$133 miliar atau Rp1,88 kuadriliun pada 2025. Hal ini didorong oleh geliat perusahaan pengelola aplikasi dagang-el dan berbagi kendaraan.

Pertumbuhan Ekonomi Maksimal 6%. Pemerintah memastikan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7% dalam 5 tahun ke depan tidak akan terealisasi karena tekanan ekonomi global. Menteri PPN/ Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan, maksimal pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 6%.

RI Siap Hadapi Resesi. Bank Dunia menilai adanya sejumlah penyangga yang telah disiapkan pemerintah membuat Indonesia siap untuk menghadapi kemungkinan terjadinya resesi global. Hal tersebut dikatakan oleh Lead Country Economist for Indonesia dari Bank Dunia Frederico Gil Sander saat ditemui di sela-sela peluncuran laporan Time to Act: Realizing Indonesia’s Urban Potential, Kamis (3/10) di Jakarta.

PJB Resmi Bermitra dengan Masdar Garap PLTS Cirata. Masdar, pengembang energi terbarukan asal Uni Emirat Arab, menjadi mitra PT Pembangkit Jawa Bali dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata di Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat

KPP Atur Ritme Pencairan. Otoritas pajak mengatur ritme pencairan restitusi yang sejak awal tahun tumbuh cukup signifi kan. Pengaturan ini dilakukan agar restitusi tidak berdampak besar terhadap penerimaan pajak yang sejauh ini masih belum memuaskan.

Realisasi Bebas Karbon: Peran Korporasi Masih Minim. Mayoritas korporasi gobal paling berpolusi masih belum menyelaraskan operasi bisnisnya dengan Perjanjian Paris terkait perubahan iklim. Climate Action 100+, kelompok investor dengan nilai asset US$35 triliun melaporkan, hanya 9% dari 161 perusahaan yang menjadi target mereka, yang bekerja dengan mempertimbangkan dampak perubahan iklim.

Singapura Tampung Dana Investor. Singapura berhasil mengambil untung dari aksi demonstrasi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir di Hong Kong. Goldman Sachs Group Inc. melaporkan, negeri tetangga itu berpotensi menarik dana hingga mencapai US$4 miliar dari investor yang panik karena kegaduhan politik dan keamanan di Hong Kong yang tak kunjung usai.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top