KABAR PASAR 3 OKTOBER: Pembelian Reksa Dana Susut, Sriwijaya Terbang Lagi dengan Tagihan Utang

Berita mengenai turunnya nilai pembelian reksa dana serta Sriwijaya yang kembali terbang meskipun masih dibayangi beban utang menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (3/10/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  08:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai turunnya nilai pembelian reksa dana serta Sriwijaya yang kembali terbang meskipun masih dibayangi beban utang menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Kamis (3/10/2019).

Berikut beberapa ringkasan topik utamanya:

 

Pembelian Reksa Dana Susut. Nilai pembelian atau net subscription reksa dana turun sebesar 10,94% pada Januari—September 2019 seiring dengan sikap me nung gu (wait and see) investor di tengah banyaknya sentimen negatif di pasar saham.

Sriwijaya Terbang Lagi dengan Tagihan Utang. Pemerintah akhirnya memperbolehkan Sriwijaya Air Group untuk tetap kembali terbang. Namun, maskapai itu masih dibayangi beban utang. Kementerian Perhubungan memastikan standar keselamatan Sriwijaya telah kembali normal setelah kerja sama manajemen (KSM) dengan Garuda Indonesia Group dilanjutkan.

Kepatuhan Wajib Pajak Akan Meningkat. Kepatuhan wajib pajak dan penerimaan negara dari sektor perpajakan diyakini bakal meningkat sejalan dengan implementasi compliance risk management (CRM).

Infrastruktur Pasar Keuangan Lebih Kuat. Infrastruktur pasar keuangan bakal lebih kuat sejalan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang membentuk lembaga Central Counterparty (CCP) pada 2023 mendatang.

Prospek Perdagangan Suram. World Trade Organization (WTO) memangkas proyeksi pertumbuhan perdagangan menjadi ke level terendah dalam satu dekade terakhir sejalan dengan belum redanya tensi perang tarif.

PM Boris Johnson Ultimatum Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, akan mengeluarkan ultimatum kepada Uni Eropa agar negosiasi Brexit dilanjutkan dengan aturannya selama 9 hari ke depan. Jika permintaan itu ditolak, maka no-deal Brexit bakal terjadi.

Industri Perbankan Paling Rawan. Industri perbankan Amerika Serikat (AS) terancam seiring dengan maraknya investasi teknologi yang dilakukan banyak perusahaan. Dalam laporan yang dirilis Wells Fargo & Co., setidaknya 200.000 karyawan terancam bakal terkena pemutusan hubungan kerja selama satu dekade ke depan. Adapun peran manusia itu akan digantikan oleh tenaga robot.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top