PGN Curhat Soal Industri Gas Nasional

Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) buka-bukaan mengenai kondisi industri gas nasional, mulai dari harga yang kompetitif hingga pasokan sumber energi tersebut.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 27 September 2019  |  17:43 WIB
PGN Curhat Soal Industri Gas Nasional
Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk memeriksa Regulator System di Bogor, Jawa Barat, Kamis (28/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) buka-bukaan mengenai kondisi industri gas nasional, mulai dari harga yang kompetitif hingga pasokan sumber energi tersebut.

Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama mengatakan pihaknya menjual gas kepada pelanggan akhir berkisar antara US$8–US$10 per million British Thermal Units (MMBtu). Menurutnya, harga itu terbentuk dari berbagai sumber baik gas sumur maupun LNG yang harganya jauh lebih tinggi.

Kendati demikian, PGN mengklaim bahwa di kawasan Asia, harga gas yang disalurkan PGN juga masih kompetitif, kecuali dibandingkan dengan harga gas di Malaysia yang mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Rachmat mengungkapkan sejak 2013, PGN tidak pernah menaikkan harga gas kepada konsumen industri. Di sisi lain, biaya pengadaan gas, dan biaya operasional terus meningkat.

"Dengan beban biaya yang terus meningkat, tentunya ruang bagi PGN untuk mengembangkan infrastruktur gas bumi menjadi makin terbatas, sementara banyak sentra-sentra industri baru, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang belum terjamah gas bumi," tuturnya, dalam keterangan tertulis, Jumat (27/9/2019).

Dalam data yang dihimpun PGN, harga gas bumi kepada sektor industri di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura dan China. Di Singapura, harga gas industri sekitar US$12,5–US$14,5 per MMBtu.

Dari sisi jaringan pipa gas, PGN telah membangun jaringan gas hingga lebih dari 10.000 kilometer (km). Panjang pipa gas PGN ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan jaringan gas milik Malaysia dan Thailand, serta empat kali lipat lebih panjang daripada jaringan gas di Singapura.

Merujuk data tersebut, subholding migas nasional mengklaim biaya pengelolaan kegiatan hilir Indonesia masih bersaing dibanding negara-negara di Asia Tenggara.

Masih dari data PGN, rentang biaya distribusi dan niaga di Indonesia berkisar antara US$2,8–US$4 per MMBtu. Sementara itu,  rentang biaya distribusi dan niaga di Malaysia, Singapura, dan Thailand dengan rentang biaya hilir sebesar US$2,8– US$3 per MMBtu.

Rachmat menambahkan semakin panjang jaringan pipa yang dikelola oleh suatu badan usaha, maka biaya pengelolaan dan perawatannya menjadi besar. Merujuk China, dengan panjang jaringan pipa yang lebih dari 40.000 km, harga gas industri di Negeri Panda tersebut mencapai US$15 per MMBtu.

Adapun setiap tahun biaya dua komponen itu juga terus naik. Rencana penyesuaian harga gas yang akan dilakukan oleh PGN, lanjutnya, juga sudah dikaji secara matang dengan memperhitungkan banyak aspek, termasuk dari sisi kemampuan konsumen industri sendiri.

"Perluasan pemanfaatan gas bumi merupakan tanggung jawab bersama. Apalagi, kita punya tanggung jawab bersama untuk menjaga ketahanan energi nasional dan melayani kebutuhan gas bumi secara berkeadilan," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PGN, gas

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top