Ewindo Kembali Hadirkan Panah Merah Innovation Award 2019

Bisnis.com, JAKARTA - PT East West Seed Indonesia (Ewindo), produsen benih sayuran kembali menghadirkan Panah Merah Innovation Award (PMIA) 2019 yang diikuti sebanyak 110 karya inovasi dari 50 perguruan tinggi di Indonesia dengan mengusung tema besar Creative Innovation Towards SDG's 2030.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 September 2019  |  19:22 WIB
Ewindo Kembali Hadirkan Panah Merah Innovation Award 2019
Acara Panah Merah Innovation Award (PMIA) 2019. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - PT East West Seed Indonesia (Ewindo),  produsen benih sayuran kembali menghadirkan Panah Merah Innovation Award (PMIA) 2019 yang diikuti sebanyak 110 karya inovasi dari 50 perguruan tinggi di Indonesia dengan mengusung tema besar Creative Innovation Towards SDG's 2030.

"Berbeda dengan PMIA 2018, kegiatan kali ini lebih memberikan keleluasaan kepada peserta untuk mengeksplorasi kemampuannya tidak hanya di bidang teknis pertanian saja, namun berbagai pendekatan keilmuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dunia tahun 2030," kata penasihat kegiatan,

Fransiska Fortuna dalam keterangannya, Selasa. Untuk itu dalam PMIA 2019 terdapat tiga sub tema yang diusung yakni bidang agrobisnis, analisa nutrisi sayuran, dan proyek komunitas sosial terkait agenda SDGs tujuannya untuk memberikan lebih banyak peminat dari berbagai bidang disiplin ilmu, jelas Fransiska yang juga didampingi Ketua Panitia PMIA 2019, Nur Fajrina. 

"Perkirakan kami benar peserta tidak hanya dibidang eksak, namun berbagai bidang seperti program studi akuntansi dari Universitas Indonesia yang menghadirkan karya asuransi mikro bagi petani atau program studi psikologi dan kedokteran dari Universitas Hasanuddin yang membahas soal pola pemahaman gizi terhadap masyarakat," kata Fransiska.

Bahkan Fransiska melihat karya yang dipaparkan peserta dari prodi non pertanian itu  akan memberikan manfaat yang besar  seperti tentang asuransi mikro dampaknya bakal luar biasa  karena dapat mengurangi risiko kerugian bagi petani kecil apabila mengalami gagal panen.

Menurut Nur Fajrina, tim juri telah memilih 10 karya terbaik dari PMIA 2019 untuk kemudian akan diseleksi lagi oleh tim panelis menjadi tiga karya pemenang untuk nantinya selain mendapatkan penghargaan berupa uang juga  terbuka kesempatan karyanya digandeng oleh industri yang berminat termasuk dari Ewindo.

Nur mengatakan, penjaringan PMIA 2019 berkerja sama dengan Universitas Indonesia untuk perguruan tinggi negeri dan Kopertis untuk perguruan tinggi swasta, serta untuk pengumumannya menggunakan fasilitas media sosial. "Kami menggunakan media sosial karena ingin menjaring inovator dari kalangan milenial. Ternyata upaya itu berhasil mayoritas karya masuk berasal dari anak-anak milenial yang perhatian terhadap SDG's 2030," jelas Nur.

Kepala Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dodi Iswardi mengatakan, sangat menghargai apa yang dilakukan Ewindo yang menghadirkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai SDGs 2030. Program ini, jelas Dodi, patut mendapat apresiasi karena sejalan dengan program mencapai SDGs yang tidak hanya tanggung jawab dari pemerintah saja tetapi juga dari badan usaha dan masyarakat.

Meskipun karya-karya mahasiswa ini masih perlu dilakukan pendalaman agar sampai kepada penerapan sebagai contoh untuk pencegahan stunting (kerdil) erat kaitannya dengan pola asuh karena ini faktor yang paling rawan di daerah-daerah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi.

Panelis lainnya  Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Badan Perencanaan Nasional/ Bappenas Pungkas Bahjuri Ali melihat paparan ilmiah yang disajikan memilikii kualitas yang baik bahkan dapat ditindaklanjuti untuk mengatasi persoalan gizi di masyarakat. "Saya kira karya-karya inovasi mereka siap untuk diaplikasikan  tinggal di dorong saja," ujar dia.

Penampilan sebagian peserta menarik tidak monoton beberapa merupakan inovasi yang memang tidak dipikirkan seperti soal manfaat tanaman kecipir untuk mengatasi persoalan gizi menggantikan kedelai. Sementara itu dari kalangan peserta seperti Ikhwanuddin dari Universitas Sumatera Utara  Prodi Fisika dengan karya untuk memeninimalisasi penggunaan pestisida di kalangan petani serta Belinda Azzahra dari Universitas Indonesia Prodi Akuntansi dengan karya asuransi mikro bagi petani kecil mengungkapkan rasa senangnya mengikuti ajang ini hingga masuk tahap final.

"Saya memang telah mempersiapkan makalah ini sejak lama, ternyata ada ajang PMIA 2019 dari media sosial. Setelah disodorkan ternyata mendapat sambutan positif," ujar Belinda yang karyanya masuk peringkat dua.

Untuk peringkat pertama dimenangkan dari Universitas Brawijaya yang mengembangkan pemanfaatan lalat hitam  untuk mengolah limbah organik serta pemanfaatan limbah organik dan non organik untuk bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hortikultura

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top