Trade Expo Indonesia 2019, Kemendag Targetkan Transaksi Barang US$1,72 Miliar

Kementerian Perdagangan menargetkan transaksi barang senilai US41,72 miliar saat penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 pada 16—20 Oktober 2019.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 18 September 2019  |  17:02 WIB
Trade Expo Indonesia 2019, Kemendag Targetkan Transaksi Barang US$1,72 Miliar
Konferensi pers TEI 2019, Rabu (18/9 - 2019). / dok. Kemendag

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan menargetkan transaksi barang senilai US41,72 miliar saat penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-34 pada 16—20 Oktober 2019.

Target tersebut naik 15% dibandingkan dengan target transaksi TEI ke-33 tahun lalu senilai US$1,5 miliar. Adapunm, realisasi transaksi barang sepanjang penyelenggaraan TEI 2018 mencapai US$1,45 miliar.

Selain itu, pada penyelenggaraan TEI tahun lalu tercatat pula transaksi investasi senilai US$5,55 miliar, transaksi jasa US$1,31 miliar, dan transaksi pariwisata US$170,5 juta. Sehingga, total transaksi yang berhasil dibukukan melalui TEI tahun lalu mencapai US$ 8,49 miliar.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Dody Edward mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan transaksi barang pada penyelenggaraan TEI tahun ini adalah dengan memberikan pelayanan kepada para calon pembeli yang hadir.

“Apa yang membedakan? Kami akan lebih mendekatkan diri ke buyers. Kami akan berikan informasi lebih banyak dan detail kepada mereka sampai mereka berhasil mendapatkan mitra yang tepat [dari Indonesia]. Kemdudian, kami akan membantu mereka [para pembeli] menyelesaikan masalah [yang dihadapi] secara langsung di tempat [penyelenggaraan],” katanya dalam konferensi pers TEI ke-34 yang digelar di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Dody menambahkan, pada penyelenggaraan TEI ke-34, Kemendag juga akan menghadirkan sejumlah perusahaan pelayaran untuk mempermudah pembeli mencari informasi detail mengenai pengiriman produk dari Indonesia ke negara tujuan masing-masing. Namun, dia tak memberikan penjelasan lebih lanjut perusahaan pelayaran apa saja yang akan hadir pada penyelenggaraan TEI ke-34.

“Nanti mereka akan ada booth khusus, buyers bisa langsung datang dan mencari tahu berapa biaya shipping per petikemasnya dari Indonesia ke negara tujuan mereka,” ungkapnya.

Dody optimis bahwa capaian total transaksi TEI ke-34 bisa melampaui TEI ke-33. Pasalnya, banyak potensi yang sebetulnya bisa diraih oleh Indonesia dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta Korea Selatan dan Jepang.

“Potensi dari perang dagang ini yang bisa kita isi, kawan-kawan eksportir harus bergerak menggarap potensi ini. [Produk barang yang] potensial ada tekstil dan produk tekstil serta makanan dan minuman,” tegasnya.

Dody menambahkan, selain menggarap potensi dari perang dagang, upaya yang bisa dilakukan untuk menggenjot ekspor adalah dengan memperluas pasar ke negara-negara tujuan ekspor nontrandisional yang ada di Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eurasia.

Sebagai catatan, pada 2019, Indonesia menargetkan ekspor nonmigas sebesar US$175,8. Namun, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas sepanjang Januari-Agustus 2019 baru mencapai US$ 101,48 miliar atau turun 6,66% dari periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY).  Padahal, target ekspor nonmigas tahun ini ditargetkan mampu tumbuh 8% dari realisasi sepanjang 2018 sebesar US$162,65 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tei, trade expo indonesia

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top