Katering Penerbangan, Aerofood Genjot Pendapatan Segmen Industrial

Direktur Operasional PT Aerofood Indonesia Sam Hartoto mengatakan, total pendapatan perseroan pada 2018 mencapai Rp2,1 triliun dengan kontribusi dari sektor industrial dan penerbangan hampir seimbang.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 17 September 2019  |  19:32 WIB
Katering Penerbangan, Aerofood Genjot Pendapatan Segmen Industrial
Direktur Operasional Aerofood ACS Sam Hartoto (kedua dari kiri) berjabat tangan dengan Presiden Direktur PT MAP Boga Adiperkasa Anthony Cottan seusai menandatangani kerja sama untuk produk Krispy Kreme, disaksikan Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto (tengah) di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (16/9 - 2019). BISNIS - Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Aerofood Indonesia, penyedia katering penerbangan, berupaya meningkatkan pendapatan dari sektor industrial agar tidak menggantungkan diri pada permintaan dari maskapai penerbangan. 

Direktur Operasional PT Aerofood Indonesia (Aerofood ACS) Sam Hartoto mengatakan, total pendapatan perseroan pada 2018 mencapai Rp2,1 triliun. Adapun, kontribusi dari sektor industrial dan penerbangan hampir seimbang.

"Tahun ini kami mencoba untuk meningkatkan sektor industrial karena sektor penerbangan pasarnya terbatas sesuai dengan jumlah penerbangan maskapai," kata Hartoto kepada Bisnis.com, Selasa (18/9/2019).

In-flight catering services, lanjutnya, termasuk captive market, karena pasar hanya bergantung kepada penambahan intensitas penerbangan atau munculnya maskapai baru. Perusahaan akan fokus mengejar pasar lain berupa industrial catering services agar pendapatan terus tumbuh.

Adapun, pasar potensial industrial catering services tersebut terdiri atas  unit perusahaan pertambangan dan migas (oil mining and gas/OMG), unit layanan kesehatan (healthcare), dan unit katering perusahaan (town catering). Hingga saat ini, pelanggan di segmen tersebut sudah mencapai 51 perusahaan.

Pada 2018, pendapatan terbesar secara berurutan dari segmen industrial diperoleh dari unit OMG, healthcare, dan town catering. Adapun, Aerofood telah menguasai pangsa pasar katering bagi pasien maupun pegawai rumah sakit premium di Jakarta sebanyak 40 persen.

Dia menyatakan tidak bisa menyebutkan nilai pendapatan untuk realisasi semester I/2019 maupun target hingga akhir tahun ini. Namun, diupayakan tetap ada pertumbuhan dibandingkan dengan realisasi 2018.

Menurutnya, ada penurunan produksi yang berbanding lurus dengan permintaan dari sektor penerbangan sepanjang semester I/2019. Namun, perseroan berhasil mendapatkan pelanggan maskapai asing baru, yakni Turkish Airlines dan Emirates rute Denpasar, serta yang akan datang adalah Oman Air.

Hartoto menjelaskan rata-rata produksi tahun lalu mencapai 120.000 meals per hari. Jumlah tersebut tidak banhak mengalami kenaikan pada tahun ini karena terdapat kontrak baru maupun habis dari maskapai asing maupun segmen industrial dan penurunan permintaan dari Garuda Indonesia yang masih bisa ditutupi oleh penambahan dari Sriwijaya Air dan NAM Air.

Di sisi lain, imbuhnya, terobosan lain untuk menambah pendapatan dilakukan dari sektor facility management untuk layanan kebersihan dan pemeliharaan gedung, serta sektor laundry untuk memenuhi kebutuhan penatu khususnya perhotelan maupun ritel. Dua sektor tersebut merupakan bagian dari one stop services perusahaan.

"Untuk laundry kita ada di Jakarta dan Denpasar. Kontribusinya ke pendapatan masih kecil, tetapi ruang pertumbuhan masih luas karena kebutuhan perhotelan tinggi terutama Denpasar," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aerofood indonesia, garuda indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top