Minim Pasokan Bahan Baku Jadi Problem Industri Pengolahan Kakao

Kurangnya pasokan bahan baku dinilai menjadi tantangan utama industri pengolahan kakao nasional.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 17 September 2019  |  12:30 WIB
Minim Pasokan Bahan Baku Jadi Problem Industri Pengolahan Kakao
Biji kakao - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Kurangnya pasokan bahan baku dinilai menjadi tantangan utama industri pengolahan kakao nasional.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan saat ini ada 20 perusahaan di sektor pengolahan kakao dalam negeri dengan kapasitas produksi mencapai 747.000 ton per tahun. Namun, utilisasinya hanya mencapai 59%.

Hal ini disebabkan menurunnya pasokan bahan baku biji kakao dalam negeri setiap tahunnya.

"Problemnya sekarang soal pasokan bahan baku," ujarnya seusai membuka kegiatan Peringatan Hari Kakao Indonesia 2019 bertema Bangga Cokelat Indonesia, di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Data International Cocoa Organization atau ICCO menunjukkan pada 2018 Indonesia menempati peringkat ke-6 produsen biji kakao terbesar. Indonesia dengan volume produksi mencapai 220.000 ton pada tahun lalu berada di bawah Pantai Gading, Ghana, Ecuador, Nigeria, dan Kamerun.

Padahal, kata Menperin, pada 2017, Indonesia masih menempati posisi ke-3 dengan volume produksi sebesar 260.000 ton.

"Dalam beberapa tahun terakhir terjadi penurunan produksi biji kakao," ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia menempati peringkat ke-3 dalam produksi olahan kakao pada 2018. Hilirisasi industri pengolahan kakao, sambung Airlangga, diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat/kakao, lemak cokelat/kakao, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen dan pangan fungsional berbasis kakao, kosmetik dan farmasi.

Produk – produk tersebut pada 2018 diekspor dengan volume sebesar 328.329 ton atau sekitar 85% dari total produksi. Menperin menyebutkan ekpor itu menyumbang devisa hingga US$ 1,13 miliar.

Selebihnya, yakni 58.341 ton atau sekitar 15% lainnya, produk kakao olahan dipasarkan di dalam negeri sebesar. “Indonesia menjadi negara  ke-3 dengan volume produksi terbesar," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri kakao

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top