Tarif Baru Trump Melayang, Sektor Manufaktur China Terancam

Prospek untuk sektor manufaktur China tampak memburuk pada Agustus, menyoroti pelemahan dalam ekonomi domestik tepat saat putaran baru tarif mulai diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 02 September 2019  |  10:43 WIB
Tarif Baru Trump Melayang, Sektor Manufaktur China Terancam
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek untuk sektor manufaktur China tampak memburuk pada Agustus, menyoroti pelemahan dalam ekonomi domestik tepat saat putaran baru tarif mulai diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS).

Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur turun menjadi 49,5 pada Agustus, menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) China. Adapun sub-indeks menunjukkan bahwa pesanan domestik dan baru di luar negeri berkontraksi.

Efektif mulai Minggu (1/9/2019), pemerintah AS memberlakukan tarif yang lebih tinggi terhadap impor China senilai sekitar US$110 miliar. Langkah ini dibalas oleh Beijing dengan pengenaan tarif atas sejumlah barang-barang AS.

Perang tarif antara kedua negara terus memberi tekanan pada ekonomi dan pembuat kebijakan China pada saat output ekonomi sudah mengalami perlambatan jangka panjang.

Hingga saat ini, para pejabat pemerintah China telah berpegang teguh pada langkah-langkah stimulus yang relatif terbatas karena kekhawatiran bahwa dukungan yang lebih ambisius akan semakin meningkatkan utang dan menggembungkan pasar properti.

“Meski kami melihat sikap Beijing menahan diri mengagumkan, kami tidak yakin apakah rencana induk yang dimaksudkan dengan baik ini dapat dipraktikkan, karena risiko pertumbuhan mungkin telah diremehkan,” ujar analis di Nomura International Ltd. dalam sebuah catatan.

“Menjelang akhir tahun, pemerintah mungkin terdorong untuk meningkatkan pertumbuhan kredit dan mengurangi langkah pengetatannya di pasar properti lagi,” tambahnya, seperti dilansir Bloomberg.

Sejauh ini, pemerintah China belum membunyikan alarm. Minggu malam (1/9/2019), Dewan Negara merilis pernyataan yang mengatakan bahwa risiko secara keseluruhan "dapat dikendalikan" dan ekonomi stabil.

Pada saat yang sama, penyesuaian kontra-siklus dalam kebijakan ekonomi akan ditingkatkan, menurut pernyataan itu.

Berbanding terbalik dengan data resmi, survei swasta yang lebih difokuskan pada perusahaan-perusahaan berskala lebih kecil menunjukkan kondisi manufaktur China justru kembali ke ekspansi.

Menurut data yang dirilis pada Senin (2/9/2019)), Indeks Manajer Pembelian (PMI) Caixin naik menjadi 50,4 pada Agustus dari 49,9 pada Juli. Dalam data resmi yang dirilis Sabtu (31/8/2019), ada kenaikan di PMI untuk perusahaan kecil, meskipun masih dalam kontraksi.

Sementara itu, sub-indeks data resmi yang mengukur pesanan ekspor baru naik menjadi 47,2, tetapi masih dalam kontraksi, sedangkan pesanan baru mengalami kontraksi lebih lanjut. Tarif baru yang diberlakukan oleh kedua belah pihak diperkirakan akan memukul sektor manufaktur China lebih keras.

Pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif 15 persen terhadap impor China senilai sekitar US$110 miliar. Tarif tersebut berdampak pada barang-barang konsumen mulai dari alas kaki dan pakaian jadi hingga tekstil dan produk teknologi tertentu seperti Apple Watch.

Setelah itu, pemerintah AS telah berencana mengenakan tarif lebih lanjut sebesar 15 persen terhadap barang-barang China senilai sekitar US$160 miliar, termasuk laptop dan ponsel, pada 15 Desember.

China membalas langkah ini dengan mulai mengenakan tarif tambahan pada sejumlah barang asal AS senilai US$75 miliar. Namun Beijing tidak memerinci nilai barang yang dikenakan lebih tinggi mulai 1 September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china, perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top