Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setop Ekspor Bijih Nikel, Indonesia Siap Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik

Indonesia akan menetapkan diri sebagai salah satu produsen baterai untuk kendaraan listrik seiring dengan percepatan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah pada 2020. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 02 September 2019  |  18:05 WIB
Model memperagakan cara sistem pengisian listrik ke mobil di booth Mercedes-Benz di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di Tangerang, Banten, Jumat (19/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Model memperagakan cara sistem pengisian listrik ke mobil di booth Mercedes-Benz di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di Tangerang, Banten, Jumat (19/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA Indonesia akan menetapkan diri sebagai salah satu produsen baterai untuk kendaraan listrik seiring dengan percepatan larangan ekspor bijih nikel kadar rendah pada 2020. 

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menilai dengan teknologi yang mumpuni, Indonesia sudah mampu memproses dan mengolah nikel kadar rendah. Dalam bijih nikel berkadar rendah, di bawah 1,7 persen tersebut, mengandung kobalt dan lithium sebagai salah satu bahan baku pembuatan baterai. 

Sejalan dengan hal tersebut, dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai kendaraan listrik, kebutuhan baterai akan semakin tinggi.

"Walaupun kadar rendah tetap saja bisa dimanfaatkan," katanya, Senin (2/9/2019). 

Dengan terhentinya rekomendasi ekspor bijih nikel pada 2020, pasar domestik diharapkan mulai dapat menyerap produk tersebut. Setidaknya saat ini, sudah ada 11 smelter nikel eksisting dengan kapasitas input 24 juta ton per tahun. Selain itu, ada pula 25 smelter sisanya yang sedang masuk tahap konstruksi. 

Dengan target pembangunan smelter hingga 2022, maka pada tahun tersebut akan ada 36 smelter nikel yang beroperasi dengan kapasitas input total 81 juta ton per tahun. 

"Smelter sudah banyak sehingga pemerintah mempertimbangkan ingin mempercepat larangan ekspor bijih nikel," katanya. 

Bambang menambahkan meskipun pelarangan ekspor nikel dipercepat, pemerintah tidak akan mengatur harga batas atas maupun batas bawah untuk pasar dalam negeri. Menurutnya, harga bijih nikel di pasar domestik disesuaikan dengan kesepakatan business to business

"Kayak batu bara ada HBA [harga batubara acuan] kita pernah campur, buktinya jalan aja. Pengelolaan harga kan sudah ditetapkan ada HMA [harga mineral acuan], silahkan sebagai acuan. Tidak ada [harga batas atas batas bawah]," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik Nikel
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top