Transaksi Modal dan Finansial Masih Berpotensi Sumbang Surplus Neraca Pembayaran Indonesia

Meski saat ini porsi Surat Utang Negara (SUN) maupun portofolio sekitar 40% masih dikuasai asing, bukan berarti transaksi modal dan finansial (TMF) Indonesia tidak akan bertumbuh positif ketika terjadi goncangan global. 
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 01 September 2019  |  23:29 WIB
Transaksi Modal dan Finansial Masih Berpotensi Sumbang Surplus Neraca Pembayaran Indonesia
Ilustrasi-Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Transaksi modal dan finansial masih bisa menyumbang surplus bagi neraca pembayaran Indonesia sampai akhir 2019.

Ekonom PT. Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyatakan meski saat ini porsi Surat Utang Negara (SUN) maupun portofolio sekitar 40% masih dikuasai asing, bukan berarti transaksi modal dan finansial (TMF) Indonesia tidak akan bertumbuh positif ketika terjadi goncangan global. 

Menurut Fikri, melepas ketergantungan pada aliran modal asing membutuhkan waktu cukup panjang.

"Ekonomi kita sebenarnya dari sektor riil dan keuangan masih sangat menarik, dari sisi riil, konsumsi dalam negeri kita saja 260 juta, itu jadi modal besar," ujar Fikri kepada Bisnis, Minggu (1/9/2019).

Dia menilai, keuntungan besarnya porsi konsumsi Indonesia masih bisa diperkuat untuk menambah foreign direct investment (FDI). Utamanya sebagai penguatan sumber dana di tengah ketidakpastian global dan perang dagang.

Sementara dari sisi portofolio, Fikri memerinci pasar saham Indonesia juga masih tumbuh positif sebagai emerging market.

"Sampai akhir tahun kita masih bisa surplus, karena asing memang masih mau ke Indonesia," ungkap Fikri.

Terkait sejumlah agenda penting ke depan, dari sisi sektor riil Fikri menilai pemerintah perlu menjaga sisi konsumsi. Misalnya dengan menambah pendapatan masyarakat melalui bantuan sosial dan menjaga inflasi tetap stabil rendah.

Sementara dari sisi investasi, selain kebijakan pelonggaran moneter, Fikri memandang penting kebijakan fiskal dari pemerintah mendorong FDI.

"Terutama melalui deregulasi yang selama ini dipandang kurang baik bagi investor," paparnya.

Dari sisi pasar keuangan, pemerintah  dan pemangku kebijakan moneter perlu mempercepat pendalaman dan perluasan pasar keuangan. Salah satunya dengan menambah porsi investor dalam negeri, ujar Fikri.

"Jumlah investor dalam negeri baru sekitar 2 juta, sedangkan jumlah populasi kita 260 juta, ini masih sangat jauh," ujarnya.

Berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal II/2019 mengalami defisit US$2,0 miliar. Sementara salah satu tumpuan NPI kali ini adalah surplusnya neraca transaksi modal dan finansial sebesar US$7,1 miliar. Porsi surplus ini banyak ditopang oleh aliran masuk berbentuk investasi langsung dan investasi portofolio.

Sayangnya surplus transaksi modal dan finansial kuartal II/2019 ternyata lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Dikutip dari data NPI kuartal I/2019, transaksi modal dan finansial kuartal sebelumnya cukup besar yakni US$10,1 miliar.

Penurunan pada kuartal II disebabkan defisit investasi lainnya. Kondisi ini juga akibat tingginya pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah dan sektor swasta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
neraca pembayaran

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top