Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Batu Bara Berpotensi Naik, Pengusaha Waswas

Potensi naiknya produksi batu bara tahun ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha karena bisa menjadi sentimen negatif yang menekan harga.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  08:35 WIB
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Potensi naiknya produksi batu bara tahun ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha karena bisa menjadi sentimen negatif yang menekan harga.

Harga Acuan Batubara (HBA) periode Agustus 2019 tercatat senilai US$72,67/ton. Meskipun mengalami penguatan tipis dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di level US$71,92/ton, level tersebut masih jauh di bawah kisaran harga pada tahun lalu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara (APBI) Hendra Sinadia mengatakan dengan permintaan pasar global yang masih rendah terhadap batu bara, harga bisa terkoreksi. 

Meskipun demikian, dia mengakui sejauh mana pengaruh peningkatan kuota produksi terhadap harga batu bara tidak dapat diukur dengan pasti. 

"Pengaruhnya bisa banyak faktor, bisa saja terjadi gangguan terhadap supply, sehingga berdampak pada harga. Atau misalnya seperti China tiba-tiba membatasi impor dari Australia di awal tahun," katanya kepada Bisnis, Selasa (27/8/2019).

Menurutnya, mencari pasar baru seiring dengan peningkatan kuota produksi tersebut juga tidak mudah dilakukan. Contohnya permintaan batu bara dari Vietnam yang digadang-gadang menjadi pasar ekspor baru, kemungkinan baru akan terjadi pada 2021 atau 2022 nanti. 

Hingga saat ini, China masih menjadi tujuan ekspor batu bara terbesar Indonesia yang persentasenya mencapai 25%, menyusul India sekitar 23%, dan sisanya negara-negara Asia Timur. 

"Kebanyakan sudah punya pasar, bahkan ada beberapa juga yang menggenjot ekspor ke China sebelum mereka, takutnya, membatasi impor," katanya. 

Di sisi lain, pasar domestik belum bisa mengakomodasi kewajiban pasokan batu bara dalam negeri (domestic market obligation/DMO) sebesar 25% yang diwajibkan kepada setiap produsen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top