Bappenas : Potensi Panas Bumi Besar, Pemanfaatan Masih Rendah

Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai utilisasi atau pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih rendah meskipun kapasitas terpasangnya menempati urutan kedua terbesar setelah Amerika Serikat. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  17:06 WIB
Bappenas : Potensi Panas Bumi Besar, Pemanfaatan Masih Rendah
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menghadiri acara seminar Low Carbon Development and Green Economy dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Hotel Inaya Putri, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). - ANTARA/Afriadi Hikmal

Bisnis.com, JAKARTA Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai utilisasi atau pemanfaatan panas bumi di Indonesia masih rendah meskipun kapasitas terpasangnya menempati urutan kedua terbesar setelah Amerika Serikat. 

Saat ini, pemanfaatan kapasitas total terpasang energi panas bumi di Indonesia sebesar 1.948,5 megawatt (MW). Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai produsen listrik panas bumi peringkat kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Semula, posisi ini ditempati Filipina.

Tahun ini direncanakan akan ada tambahan kapasitas terpasang 185 MW sehingga total terpasang menjadi 2.133,5 MW.

Menurutnya, bauran pemanfaatan panas bumi untuk pembangkitan di Indonesia hanya sekitar 7 persen dari potensi di atas 25.000 MW, padahal di negara lain capaiannya sudah sekitar 30 persen hingga 40 persen. 

Kondisi ini mengharuskan Indonesia untuk meningkatkan investasi pada pembangkit panas bumi dengan cara memperbaiki akurasi data eksplorasi dan membuat akses sumber pembiayaan berbunga rendah. 

Selain itu, Indonesia juga dinilai perlu memastikan tarif listrik pembangkit geothermal benar-benar sesuai dengan harapan investor, yakni menyesuaikan dengan nilai keekonomian proyek. 

"Ke depan saya harap geothermal terus meningkatkan produksinya dan utilisasinya. Tetapi yang paling penting, mulai bisa menyelesaikan masalah mendasar seperti tarif, akurasi data eksplorasi, dan juga akses keuangan yang berbunga rendah," katanya, Rabu (14/8/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bappenas, panas bumi

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top