Kebijakan Makroprudensial Diprediksi Makin Longgar

Pengamat menilai kebijakan makroprudensial diprediksi melonggar seiring dengan tren resesi perekonomian global.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  11:16 WIB
Kebijakan Makroprudensial Diprediksi Makin Longgar
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan) berbincang dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso (kiri), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamim Simpanan (LPS) Halim Alamsyah di sela-sela konferensi pers, di Jakarta, Selasa (30/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengamat menilai kebijakan makroprudensial diprediksi melonggar seiring dengan tren resesi perekonomian global.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menyatakan dalam merespons perang dagang yang kian memanas dari sisi moneter dan makroprudensial menunjukkan akan ada kebijakan pelonggaran likuditas.

"Di samping dorongan terhadap efisiensi pasar keuangan akan terus dilakukan," terang Fikri kepada Bisnis.com, Selasa (13/8/2019).

Sementara itu, dari sisi fiskal, Fikri mengimbau pemerintah harus bijaksana dalam hal pengeluaran anggaran negara.

"Atau cara lainnya mesti dengan sangat lihai mendorong penerimaan negara, baik dari pajak ataupun non-pajak," ungkap Fikri.

Fikri mengingatkan bahwa kondisi perang dagang dan perang mata uang global mendorong ketakutan yang berasal dari sinyal inverted yield curve. Utamanya bahwa akan terjadi resesi global dalam 1 atau 2 tahun mendatang.

"Sebagai dampaknya, kembali risk premi kita di mata investor global akan berada di titik yang tinggi," terang Fikri.

Dalam kondisi perang dagang yang berimbas pada perang kurs, Fikri mengaku masih optimistis perekonomian Indonesia pada akhir tahun bisa tumbuh di atas 5%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kebijakan makroprudensial

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top