Uni Eropa Larang Sawit, Rapeseed dan Soyabean Untuk Biodiesel

Dalam delegated act Uni Eropa perihal Renewable Energy Directive II (RED II) terungkap bahwa semua penghasil minyak nabati yang dipanen (crop based) dilarang untuk biodiesel.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  00:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam delegated act Uni Eropa perihal Renewable Energy Directive II (RED II) terungkap bahwa semua penghasil minyak nabati yang dipanen (crop based) dilarang untuk biodiesel.

Direktur Sustainability Relation Asian Agri Bernard A. Riedo mengatakan semua minyak nabati yang berasal dari tanaman musiman atau crop based akan dilarang untuk dipakai sebagai bahan pembuat bahan baku biodiesel. Diantaranya adalah rapeseed, bunga matahari dan kedelai.

Adapun yang diperbolehkan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak bekas pemakaian seperti jelantah atau sisa-sisa yang tidak terpakai. “Semua crop based tidak boleh untuk biodeiserl selama itu untuk alokasi pangan yang boleh adalah waste and residue. Minyak makan bekas atau minyak jelantah boleh,” katanya belum lama ini di Moskow.

Menurutnya hal tersebut sah saja bila sebuah negara menghendaki kebijakan, tetapi yang menurutnya tidak adil adalah perlakuan kepada sawit. Pasalnya secara bertahap minyak sawit akan diupayakan hilang mulai 2023 padahal kelapa sawit tidak termasuk crop based. Namun dianggap sebagai tanaman beresiko tinggi lebih dari crop based lai seperti rapeseed atau bunga matahari.

“Rapeseed disini banyak memang tapi apakah bisa memenuhi kebutuhan [energy] mereka secara total? Itu saja. Rapeseed nanti kalau delegated act berlaku tidak akan boleh karena itu yg Uni Eropa mau,” katanya.

Menurutnya dengan kebijakan tersebut Uni Eropa mempersulit industry disana yang bergantung kepada minyak sawit. Sebagai ilustrasi penggunaan minyak sawit sebagai biodiesel di Uni Eropa mencapai 5 juta ton atau 71,4% dari rerata ekspor Indonesia ke Uni Eropa.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Sahad Sinaga mengatakan Indonesia masih bisa mengakali aturan tersebut dengan menggunakan buah yang kelewat matang atau busuk sebagai bahan baku biodiesel.

“Buah yang terlalu masak dengan kadar asam tinggi bisa dipakai karena itu termasuk waste and residue karena tidak bisa digunakan sebagai pangan,” katanya.

Selain itu dia menilai, tanaman lain seperti nyamplung dapat dipakai sebagai alternative untuk bahan baku biodiesel sebab kandungan minyak dalam buahnya cukup tinggi. Lebih-lebih nyamplung cocok dibudidayakan untuk tanah kering seperti di daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top