Asumsi ICP Meleset, Penerimaan Negara Hilang Rp7,5 Triliun

Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan setiap US$1 penurunan harga ICP, maka penerimaan negara hilang sebesar Rp1,1 triliun.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  19:28 WIB
Asumsi ICP Meleset, Penerimaan Negara Hilang Rp7,5 Triliun
Pakar Ekonomi Faisal Basri memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik di Indonesia, di kantor pusat PLN, Jakarta, Selasa (10/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Dengan menurunnya harga Indonesia Crude Price (ICP) dari asumsi makro APBN 2019, penerimaan negara dari ICP hilang Rp7,5 triliun.

Ekonom Senior Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan setiap US$1 penurunan harga ICP, maka penerimaan negara hilang sebesar Rp1,1 triliun.

Adapun harga rata-rata ICP per semester I/2019 berada di angka US$63 per barel, di bawah asumsi makro APBN 2019 yang mematok ICP di angka US$70 per barel.

Lebih lanjut, hal ini juga diperparah dengan minyak yang terus menurun dari tahun ke tahun.

Laporan APBN semester I/2019 atas lifting minyak saja menunjukkan realisasi lifting tidak mencapai asumsi makro, terpaut 20 ribu barel dari target asumsi APBN 2019 yakni 775 ribu barel per hari.

Tidak heran, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Minyak dan Gas (Migas) pun tidak seimpresif tahun sebelumnya.

Seperti diketahui, PNBP Migas per semester I/2018 mencapai Rp58,75 triliun atau 72,4% dari target kala itu. Tahun ini, penerimaan PNBP Migas turun menjadi Rp54,57 triliun atau 34,2% dari target APBN 2019 yang mencapai Rp159,77 triliun, hampir dua kali dari target tahun sebelumnya.

Dengan menurunnya harga batu bara, dapat diprediksi pula bahwa PNBP SDA secara keseluruhan juga akan turun.

"Beginilah kalau terlalu bergantung pada komoditas. Dalam jangka pendek, solusinya ya nambah utang," kata Faisal, Minggu (28/7/2019).

Dengan pertumbuhan PDB yang terus konsisten di angka 5%, impor migas bagaimanapun tidak mungkin untuk dibendung.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad pun menyoroti rendahnya realisasi PNBP Migas padahal harga ICP dan nilai tukar cenderung sama.

"Karena itu, optimalisasi PNBP yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan [KND] maupun PNBP lainnya untuk mengkompensasi penurunan PNBP SDA tersebut," kata Tauhid, Minggu (28/7/2019).

Untuk diketahui, PNBP dari KND dan PNBP Panas Bumi berhasil melampaui target APBN 2019 per semester I ini.

PNBP dari KND terealisasi sebesar Rp68,67 triliun, 150,6% dari target yang ditetapkan yakni sebesar Rp45,58 triliun.

Adapun PNBP Panas Bumi sudah teralisasi 117,9% dan mencapai nominal Rp1,03 triliun, di atas target APBN yang hanya Rp878,4 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pnbp, faisal basri

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top