Kembangkan Sektor Perikanan, Afrika Mulai Lirik Konsep Mina Padi

Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pelatihan terkait praktik mina padi bagi 10 orang peserta dari sejumlah negara di Afrika. 
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  11:48 WIB
Kembangkan Sektor Perikanan, Afrika Mulai Lirik Konsep Mina Padi
Nelayan beraktivitas di sekitar karamba budi daya ikan air tawar di Danau Rawa Pening, Desa Asinan, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, SUKABUMI—Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengadakan pelatihan terkait praktik mina padi bagi 10 orang peserta dari sejumlah negara di Afrika. 

Kepala Subdirektorat Kerja Sama Teknik Wilayah Afrika dan Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Febrizki Bagja Mukti menyebutkan pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang dijalin dalam Indonesia—Afrika Maritime Dialogue (IAMD). IAMD sendiri merupakan side event dari Our Ocean Conference yang diadakan di Bali pada Oktober 2018 lalu. 

“Tujuannya memberi transfer teknologi di bidang mina padi karena di Afrika, negara-negara yang kita undang ini juga menanam padi dan punya sektor perikanan yang cukup potensial,” ujarnya, Rabu (24/7/2019). 

Sementara itu, lanjutnya, beberapa negara seperti Senegal dan Ghana sudah mulai menerapkan mina padi, tetapi dengan teknologi yang belum semumpuni praktik yang ada di Indonesia. 

Dalam acara yang dilakukan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi ini, para peserta mendapatkan sejumlah pelatihan terkait praktik mina padi, mulai dari kiat pemilihan lokasi yang pas, persiapan lahan, pengenalan pemeliharaan padi, juga pemeliharaan ikan sistem mina padi dan panen. 

Usai pelatihan ini, Indonesia juga akan melakukan monitoring dan evaluasi terkait perkembangan praktik mina padi di negara-negara peserta. Kendati demikian, mereka tidak diharuskan untuk langsung memulai praktik mina padi di negara mereka. 

Pasalnya, pelatihan ini juga merupakan bagian dari kerja sama Selatan-Selatan (South to South) yang menganut beberapa prinsip seperti demand driver di mana pelatihan memang diberikan sesuai dengan kebutuhan negara peserta. Namun, di saat yang sama, ada pula prinsip kesetaraan yang berarti pada saat satu negara memberi bantuan atau pelatihan, negara peserta tidak diwajibkan untuk langsung melakukan implementasi. 

“Karena tentu yang kita ajarkan di sini mungkin di negaranya bisa diimplementasikan, tetapi dengan modifikasi-modifikasi tertentu atau apa enggak bisa. Paling enggak belajar dulu. Untuk implementasi mungkin ada banyak faktornya, faktor dana, dan lain-lain, tapi prinsipnya kita tidak memberikan paksaan bahwa ini kalau ikut harus diimplementasikan,” tuturnya.

Di samping itu, pelatihan ini juga merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga keberlangsungan pasokan ikan dan padi atau beras sebagai produk pangan penghasil protein dan karbohidrat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mina padi, perikanan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top