Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gugur Daun Serang Lahan Karet, Produksi Berpotensi Turun 15 Persen

Produksi karet nasional sepanjang 2019 berpotensi turun 15 persen dari total produksi pada 2018 yang mencapai 3,76 juta ton akibat wabah penyakit gugur daun karet yang melanda sejumlah sentra produksi. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  21:26 WIB
Getah pohon karet - Istimewa
Getah pohon karet - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Produksi karet nasional sepanjang 2019 berpotensi turun 15 persen dari total produksi pada 2018 yang mencapai 3,76 juta ton akibat wabah penyakit gugur daun karet yang melanda sejumlah sentra produksi. 

Dengan asumsi tersebut, pengurangan produksi karet diperkirakan bisa mencapai 550.000 ton apabila upaya penanggulangan tak berjalan secara efisien.

Hasil pantauan Kementerian Pertanian lewat Direktorat Jenderal Perkebunan bersama dengan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) per 16 Juli 2019 menyebutkan bahwa luas lahan yang terdampak penyakit yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp. mencapai 381.900 hektare (ha) dan tersebar di enam provinsi sentra produksi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Angka tersebut meliputi serangan ringan seluas 149.600 ha dan serangan berat seluas 232.400 ha. Serangan penyakit ini diperkirakan akan terus bertambah.

"Karet tengah menghadapi beberapa tantangan. Mulai dari harga yang masih rendah, meski sudah naik dari level US$1,2 per kg sebagai dampak dari kebijakan pemangkasan ekspor tiga negara produsen karet. Indonesia sepakat untuk mengurangi ekspor sebanyak 98.000 ton, tapi kenyataannya penurunan ekspor mencapai 200.000 ton sepanjang semester I," kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud  dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Penurunan ekspor ini, sambung Musdhalifah, turut dipengaruhi oleh produksi yang menurun akibat penyakit gugur daun karet. Ia mengatakan wabah penyakit tersebut sejatinya telah melanda perkebunan karet beberapa tahun terakhir, namun untuk saat ini dampaknya lebih luas dan sudah pada taraf yang mengkhawatirkan.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono membenarkan paparan Musdalifah. Ia menjelaskan serangan Pestalotiopsis sp. tanaman karet mengalami gugur daun berulang dalam periode yang panjang, bahkan di luar periode gugur daun alami yang secara langsung menurunkan produksi.

"Berdasarkan laporan dari Lembaga Getah Malaysia [Malaysia Rubber Board], serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp juga terjadi di Malaysia, terutama di daerah semenanjung Malaka," tuturnya.

Potensi penurunan produksi akibat wabah Gugur Daun Karet ini sebelumnya sempat disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Karet Indonesia Azis Pane. Dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Azis menyebutkan ekspor nasional bisa turun 400.000 ton sepanjang 2019 akibat wabah penyakit ini.

"Ekspor karet alam Indonesia mengalami penurunan sebesar 205.407 ton dari 1.293.197 ton pada 2018 menjadi 1.087789 pada 2019 atau sebesar 15,9 persen sepanjang Januari-Mei. Apabila kondisi ini tidak mengalami perbaikan, maka pada 2019 ekspor karet alam Indonesia akan mengalami penurunan sebesar 470.000 ton, bahkan jika belum ada aksi konkrit dari penanggulangan penyakit ini, penurunan ekspor karet alam Indonesia akan lebih besar lagi dari angka tersebut," kata Azis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga karet perkebunan
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top