Penghematan dari LPG Bisa Tutupi Kelebihan Penyaluran Solar Bersubsidi

Dewan Energi Nasional optimistis penambahan subsidi solar menjadi 15,7 juta kiloliter (KL) dari rencana pada tahun ini yang sebanyak 14,5 juta KL tidak akan membuat APBN 2019 bengkak. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  14:39 WIB
Penghematan dari LPG Bisa Tutupi Kelebihan Penyaluran Solar Bersubsidi
Pekerja membongkar tabung gas LPG 3kg di salah satu agen penjualan, di Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA--Dewan Energi Nasional optimistis penambahan subsidi solar menjadi 15,7 juta kiloliter (KL) dari rencana pada tahun ini yang sebanyak 14,5 juta KL tidak akan membuat APBN 2019 bengkak. 

Adapun realisasi konsumsi solar selama periode Januari-Juni 2019 telah mencapai 52 persen dari kuota yang ditetapkan atau sebanyak 7,56 juta KL. Dengan realisasi tersebut, prognosis kuota solar hingga akhir tahun bertambah menjadi 15,7 juta KL dari target awal yang sebelumnya 14,5 juta KL.

Dalam lima tahun terakhir, realisasi kuota solar tidak pernah melebihi target yang ditetapkan. Realisasi kuota tertinggi untuk solar terjadi pada 2018 dengan capaian 100 persen atau sebanyak 15,58 juta KL.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kelebihan kuota subsidi solar bisa dibayarkan dari subsidi LPG. Adapun pada 2019, anggaran subsidi LPG 3 kilogram (kg) yang seharusnya senilai Rp75 triliun diprediksi mampu ditekan menjadi sekitar Rp40 triliun hingga Rp45 triliun.

Dia menjelaskan kelebihan kuota subsidi solar pada tahun ini adalah sekitar 1 juta kiloliter dari target. Artinya dari kelebihan kuota tersebut dibutuhkan penambahan subsidi solar senilai Rp2 triliun atau masih jauh dari sisa dana subsidi dari penghematan LPG. 

"Penambahan subsidi solar sekitar Rp2 triliun. Kita sudah bisa save Rp30 triliun [penghematan LPG], jadi tidak masalah," katanya, baru-baru ini. 

Menurutnya, peningkatan kuota subsidi solar juga berkaitan dengan penambahan SPBU di seluruh Indonesia yang merupakan bagian dari program BBM Satu Harga. Pada tahun ini, ditarget ada penambahan 170 SPBU baru dari realisasi 131 SPBU pada tahun lalu. Sementara itu, dalam lima tahun ke depan ditargetkan ada penambahan 500 SPBU. 

"Target kami di setiap kecamatan ada satu. Karena anggaran terbatas, saat ini baru 40 daerah yang sudah didaftarkan pembangunan SPBU-nya," katanya. 

Selain itu, untuk tetap menjaga konsumsi solar, saat ini pemerintah sedang mengkaji aturan agar truk-truk besar tidak menggunakan BBM bersubsidi. Pemerintah juga terus berupaya agar kendaraan diesel menggunakan biodiesel.

"Kami juga sedang menguji B30 sehingga otomatis konsumsi [solar] bisa turun," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
solar, bbm bersubsidi

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top