Apjati Berharap Penempatan PMI ke Arab Saudi mulai September

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa TKI (Apjati) berharap pada September 2019 sudah bisa dilakukan percobaan penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ke Arab Saudi dengan sistem satu kanal yang sudah disepakati kedua pemerintah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 Juli 2019  |  18:28 WIB
Apjati Berharap Penempatan PMI ke Arab Saudi mulai September
Ketua Umum Apjati Ayub Basalamah (tengah depan) berfoto bersama dengan Plt Dirjen Binapenta Kemenaker Edi Purnomo (kedua kanan), Dirjen Protokol dan Konsuler Kemlu Andri Hardi (kedua kiri) dan 19 syarikah peserta pertemuan bisnis (bisnis meeting) dari Arab Saudi untuk membahas dan mematangkan penempatan ke Saudi melalui sistem satu kanal di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa TKI (Apjati) berharap pada September 2019 sudah bisa dilakukan percobaan penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) ke Arab Saudi dengan sistem satu kanal yang sudah disepakati kedua pemerintah.

Ketum Apjati Ayub Basalamah di sela pertemuan bisnis (bisnis meeting) dengan mitra 19 perusahaan (syarikah) dari Arab Saudi di Jakarta, Senin mengatakan, potensi penempatan sangat besar, tetapi untuk tahap awal akan dilakukan selektif. "Untuk tahap awal kita akan menempatkan eks-PMI Saudi yang secara kompetensi sudah memenuhi syarat," kata Ayub, Senin (22/7/2019).

Menurutnya, banyak pihak mengharapkan proyek percontohan ini bisa sukses agar bisa menjadi contoh bagi penempatan ke negara timur tengah lainnya. Indonesia menghentikan sementara (moratorium) penempatan ke Saudi dan sejumlah negara di timur tengah lainnya sejak 2011.

Dirjen Protokol dan Konsuler Kemlu Andri Hardi dalam sambutannya mengatakan momen ini sudah lama ditunggu sejak Indonesia memutuskan moratorium penempatan sejak 2011. "Meski penempatan satu kanal masih uji coba tapi langkah yang baik diharapkan akan menghasilkan sistem yang lebih baik," tambahnya.

Dia mengutip data PBB yang mencatat 258 juta orang melakukan migrasi antar negara pada 2017 dan jauh lebih banyak dibandingkan dengan  2000 yang 173 juta orang. Salah satu pendorong migrasi adalah ketenagakerjaan (labor migrasi), seperti Indonesia yang melimpah pekerja dan Saudi yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Kemlu RI mendukung penempatan dalam satu kanal. "Proses hulu dan hilir adalah suatu mata rantai yang tidak terpisah, karena itu pendekatannya harus komprehensif," ujar Andri.

Data di Kemlu RI pada 2017-2018 terdapat 23.092 bermasalah, 64,2% (14.759 kasus) menyangkut pekerja migran dan mayoritas (7.935 kasus) terjadi di Timur Tengah.

Menaker Hanif Dhakiri dalam sambutannya yang dibacakan Plt Dirjen Binapenta Edi Purnomo mengatakan, dasar hukum penempatan satu kanal adalah Kepmenaker Nomor 291 Tahun 2018 Tentang Pedoman Pelaksanaan Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia di Kerajaan Arab Saudi Melalui Sistem Penempatan Satu Kanal.

Menteri mengingatkan sistem penempatan satu kanal adalah proyek percontohan (pilot project) yang disepakati Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi untuk kurun waktu, wilayah dan jabatan tertentu. "Penempatan ini tidak mencabut pelarangan (moratorium) penempatan ke Saudi dan sejumlah negara di timur tengah lainnya," katanya.

Kedua negara punya pengawasan penuh atas penempatan satu kanal ini. Karena itu perusahaan yang terlibat juga dibatasi jumlahnya, dimana di Indonesia terseleksi 57 perusahaan dan 11 syarikah yang dipilih Kerajaan Saudi.

"Jika, hasil evaluasi berjalan baik dan tak kendala berarti maka akan diteruskan dan mungkin akan diadopsi ke penempatan negara timur tengah lain," ujar Hanif.

Ahmad mewakili syarikah Saudi mengatakan perusahaan mereka terpercaya, sangat peduli pada perlindungan, hingga menghadirkan pengacara jika dibutuhkan untuk membela PMI. "Setiap pekerja mendapat telepon seluler yang setiap saat bisa terhubung dengan konsuler Indonesia," ujarnya.

Dia juga menyatakan bahwa syarikah komit dan taat pada regulasi yang sudah ditentukan.  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
TKI

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top