Harga Robusta Anjlok, Industri Kopi Genjot Serapan Domestik

Industri kopi Indonesia menaikkan serapan domestiknya di tengah turunnya harga komoditas tersebut, terutama untuk kopi jenis robusta di dalam negeri. 
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  09:06 WIB
Harga Robusta Anjlok, Industri Kopi Genjot Serapan Domestik
Biji kopi Robusta. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA--Industri kopi Indonesia menaikkan serapan domestiknya di tengah turunnya harga komoditas tersebut, terutama untuk kopi jenis robusta di dalam negeri. 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengakui, impor sepanjang semester I/2019 mengalami penurunan drastis. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh harga kopi jenis robusta yang turun ke level terendahnya selama lima tahun terakhir pada 2019.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor kopi sepanjang Januari--Juni 2019 mencapai 16.617 ton. Volume tersebut turun drastis dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 65.168 ton.

“Tahun ini harga rata-rata kopi robusta mencapai Rp22.000/kg, turun jauh dari awal tahun lalu yang sempat mencapai Rp28.000/kg. Di samping itu, harga kopi robusta di Vietnam harganya sama dengan kopi kita, sehingga industri domestik memilih menyerap dari produksi dalam negeri,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (16/7/2019).

Penurunan harga tersebut, salah satunya disebabkan oleh sisa stok produksi dan impor tahun lalu yang cukup tinggi pada awal 2019, yakni mencapai 40.000 ton. Pada tahun lalu, lanjut dia, stok awal tahun hanya berkisar 18.000 ton. 

Selain itu, lanjutnya,  penurunan impor kopi robusta tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, juga disebabkan karena meningkatnya produksi petani.

Berdasarkan data AEKI, produksi kopi robusta nasional pada tahun lalu kurang dari 600.000 ton, sedangkan pada tahun ini diprediksi produksinya naik sekitar 20% dari capaian tahun lalu.

Fakta-fakta tersebut, membuat penyerapan industri dalam negeri terhadap kopi robusta pada tahun ini naik hingga 14% dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 350.000 ton. Adapun sisa dari produksi yang tidak diserap dalam negeri, diekspor oleh para produsen. 

Sementara itu, dia menambahkan kondisi serupa juga terjadi pada komoditas kopi berjenis arabika. Impor kopi jenis tersebut juga mengalami penurunan, lantaran masyarakat mulai menggemari produk kopi arabika domestik. Di samping itu produksi petani dalam negeri sanggup untuk memenuhi kebutuhan domestik. 

“Besaran produksinya dan konsumsinya [kopi arabika] saya tidak bisa sebutkan angkanya, karena kopi jenis ini fluktuatif sekali permintaan dan konsumsinya. Namun yang jelas, impor kopi jenis ini juga turun tajam pada tahun ini,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top