Revisi Pengembangan Blok Masela Disetujui, SKK Migas Catat 4 Poin Penting

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mencatat empat poin penting setelah pemerintah menyetujui revisi rencana pengembangan (plan of development/PoD) Blok Masela di Maluku.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  15:18 WIB
Revisi Pengembangan Blok Masela Disetujui, SKK Migas Catat 4 Poin Penting
Menteri ESDM Ignasius Jonan (tengah) didampingi Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto (kiri) dan CEO Inpex Takayuki Ueda (kanan) memberikan salam usai memberikan keterangan terkait pengelolaan Blok Masela di Jakarta, Selasa (16/7/2019). Pemerintah dan Inpex telah menemui kata sepakat dalam mengelola Blok Masela. - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA--- Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mencatat empat poin penting setelah pemerintah menyetujui revisi rencana pengembangan (plan of development/PoD) Blok Masela di Maluku.

Ditemui seusai menemani Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (16/7/2019) menyatakan melihat empat poin penting terkait investasi setelah persetujuan revisi PoD oleh Inpex itu.

Pertama tentang nilai investasi yang cukup besar sebesar US$20 miliar atau sekitar Rp288 triliun untuk sebuah proyek. "(Investasi ini) berani dilakukan di indonesia, berarti Indonesia kan cukup bagus untuk investasi besar," kata mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ini.

Kedua tentang lokasi investasi di Indonesia bagian Timur. Seperti diketahui, Blok Masela ini berada di wilayah Indonesia Timur. Dwi mengatakan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur belum sebaik Indonesia bagian Barat. Dengan demikian, investor akan mencari wilayah kerja yang belum dieksplorasi di daerah lain.

Ketiga tentang investasi minyak dan gas di laut dalam. Dwi mengatakan investasi minyak dan gas di laut dalam ternyata masih layak (feasible) untuk dilakukan.

Keempat tentang pertumbuhan industri petromikia. Keberadaan Blok Masela ini akan memacu pertumbuhan industri petrokimia. Industri petrokimia akan menggunakan gas yang diproduksi di Blok Masela. "Karena petrokimia kita (Indonesia) masih impor banyak ya. Jadi dengan ini mungkin akan muncul lagi orang mau bangun petrokimia di Papua," kata Dwi.

Seperti diketahui, Inpex Corporation melalui anak usahanya, Inpex Masela Ltd., telah menerima persetujuan secara resmi dari pemerintah Indonesia mengenai revisi PoD kilang gas alam cair Abadi yang telah diajukan pada 20 Juni 2019.

Dalam pengembangan proyek LNG Lapangan Abadi, Inpex diproyeksikan menghasilkan gas sebanyak 9,5 juta ton per tahun dalam bentuk LNG dan 150 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd) untuk gas pipa.

Pemegang Participating Interest di Blok Masela yaitu Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65% dan Shell Upstream Overseas Services dengan 35%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
skk migas, blok masela

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top