Surplus Neraca Dagang Juni 2019, Pengusaha: Jangan Senang Dulu!

Kendati mencatatkan surplus neraca perdagangan kembali pada Juni 2019, Indonesia harus berjuang keras untuk memperbaiki kinerja perdagangannya, terutama dari sisi ekspornya di sisa tahun ini.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  08:30 WIB
Surplus Neraca Dagang Juni 2019, Pengusaha: Jangan Senang Dulu!
Sebuah kapal tanker berbendera asing memuat minyak kelapa sawit (crude palm oil) di pelabuhan PT Pelindo I Dumai di kota Dumai, Riau, Kamis (31/1/2019). - ANTARA/Aswaddy Hamid

Bisnis.com, JAKARTA -- Kendati mencatatkan surplus neraca perdagangan kembali pada Juni 2019, Indonesia harus berjuang keras untuk memperbaiki kinerja perdagangannya, terutama dari sisi ekspornya di sisa tahun ini.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono mengatakan, pemerintah dan pengusaha tidak boleh berpuas diri dengan catatan surplus neraca perdagangan Juni yang mencapai US$196 juta. 

Pasalnya, menurutnya, kinerja ekspor Indonesia masih tertatih-tatih sepanjang Januari-Juni 2019 dan bisa berlanjut hingga akhir tahun apabila dibiarkan tanpa terobosan kebijakan yang tepat.

“Jangan senang dulu dengan capaian positif di neraca dagang. Ekspor kita seharusnya bisa lebih tinggi dari yang tercatat saat ini. Pemerintah jangan hanya pasrahkan ke dunia usaha saja untuk pacu ekspor. Bagaimanapun juga ujung tombak pengungkit ekspor ada di pemerintah,” jelasnya kepada Bisnis.com, Senin (15/7/2019).

Dia mengatakan, pekerjaan rumah untuk memperbaiki sektor perdagangan terutama ekspor pada semester II/jauh lebih berat. Terlebih apabila berkaca pada kinerja ekspor sepanjang paruh pertama tahun ini yang masih negatif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, total ekspor Januari--Juni 2019 mencapai US$80,32 miliar atau turun 8,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, untuk kinerja ekspor nonmigas semester I/2019 turun 6,54% dari periode yang sama tahun lalu dengan mencapai US$74,21 miliar.

“Untuk itu, kita fokus mengelola minimal satu pasar ekspor tradisional kita, seperti China contohnya. Kita bisa manfaatkan produk makanan dan minuman (mamin) untuk digenjot ekspornya ke negara itu,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani. Menurutnya, terlepas dari ekspor Juni yang turun akibat faktor musiman karena libur panjang Lebaran, kinerja ekspor sepanjang tahun ini masih tergolong mengkhawatirkan.

“Perlu jadi perhatian kita bersama bahwa, kinerja ekspor masih mengalami tekanan yang besar dari sisi global. Neraca perdagangan kita bisa terus tertekan sampai akhir tahun apabila hal ini dibiarkan,” ujarnya. 

Terlebih, lanjutnya, Indonesia selama ini tidak mampu memanfaatkan peluang pasar yang tersedia akibat perang dagang AS dan China. Sementara itu, perluasan akses pasar ke negara mitra nontradisional masih membutuhkan waktu, sehingga dampaknya terbatas terhadap ekspor RI. 

Di sisi lain, dia pun mengamini apabila kinerja ekspor Indonesia masih menjadi yang terburuk dibandingkan pesaingnya di Asean. Berdasarkan catatan Bisnis, laju ekspor Indonesia Januari-Mei 2019 terkoreksi 8,61% secara year on year (yoy).

Capaian itu menjadi yang terendah di kelompok negara emerging market yang tergabung di Asean 5 yang terdiri dari Vietnam, Malaysia, Thailand dan Filipina. Ekspor Malaysia pada Januari-Mei berhasil tumbuh 0,3% secara yoy. Pada periode yang sama Vietnam tumbuh 6,7%, sedangka Filipina terkoreksi 1,3% dan Thailand turun 3,04%.

“Kita tidak bisa menunggu hal yang luar biasa terjadi untuk membantu ekspor kita, seperti ratifikasi Indonesia-Australia CEPA tahun ini. Langkah paling realistis saat ini adalah efisienkan biaya produksi, baik dari sisi tenaga kerja dan ketersediaan bahan baku agar produk kita berdaya saing di pasar global,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top