Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Delivery Order Sulit Online : Ternyata Ini Penghambatnya

Pengelola Portal Indonesia National Single Window mencatat salah satu penghambat penerapan sistem delivery order online adalah pelayanan setiap pelayaran yang belum terstandardisasi.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  06:36 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengelola Portal Indonesia National Single Window mencatat salah satu penghambat penerapan sistem delivery order online adalah pelayanan setiap pelayaran yang belum terstandardisasi.

Deputi Operasi dan Pengembangan Sistem PP Indonesia National Single Window (INSW) Muwasiq M. Noor mengatakan, di Indonesia, hanya agen pelayaran besar yang diberi wewenang penuh oleh prinsipalnya untuk mengelola data. Mereka diperbolehkan menerima data, mendistribusikannya, bahkan menggunakan sistemnya.

"Tapi, agen pelayaran juga ada yang kecil-kecil. Mereka cuma dikasih data manual," katanya, Rabu (10/7/2019).

Pengelola Portal INSW akan mengecek setiap agen pelayaran. Selama ini, lanjut Muwasiq, pihaknya tidak mendapatkan input yang jelas dari agen pelayaran. "Semua bilang siap, punya sistem. Begitu didatangi, mereka bilang harus tanya prinsipal dulu," ujarnya.

Muwasiq menambahkan setelah mengecek agen, PP INSW akan merumuskan solusi bagi mereka yang tidak diberi kewenangan penuh oleh prinsipal.

Solusi itu, misalnya, berupa peringatan kepada prinsipal agar menyerahkan data elektronik kepada agen jika tetap ingin berbisnis di Indonesia. Jika peringatan tidak diindahkan, izin keagenan dicabut.

Bagi INSW, penerapan delivery order (DO) online memberi andil terhadap upaya pemerintah menurunkan masa inap barang atau dwelling time di pelabuhan. Mengutip dashboard dwelling time INSW, dwelling time per Juni 2019 rata-rata 3,32 hari. 

Berdasarkan survei yang dilakukan INSW terhadap 76 pelaku usaha dengan dwelling time paling tinggi, 91 persen mendapatkan DO dengan datang langsung ke shipping line atau manual. Hanya 9 persen sisanya yang memperoleh DO secara online

Dari sisi waktu, 56,4 persen pelaku usaha mendapatkan DO pada hari yang sama sejak pengajuan hingga DO diterbitkan. Sebanyak 41 persen harus menunggu 2-3 hari dan 2,6 persen menanti lebih dari 3 hari.

Padahal, indikator kinerja utama PP INSW adalah menurunkan dwelling time hingga 2,9 hari, sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. 

"Tidak heran kalau rapor kami sering merah di Kementerian Keuangan," ujar Muwasiq.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tanjung priok dwelling time INSW
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top