Ini Saran Pengusaha Agar RI Lepas dari Ketergantungan Ekspor CPO

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno menyebutkan, pemerintah harus konsisten untuk memacu ekspor komoditas unggulan ekspor yang ditetapkan tahun ini, yakni elektronik, otomotif, alas kaki, makanan dan minuman, tekstil, perikanan, permesinan dan produk kayu.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  11:22 WIB
Ini Saran Pengusaha Agar RI Lepas dari Ketergantungan Ekspor CPO
Minyak sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia Benny Soetrisno menyebutkan, pemerintah harus konsisten untuk memacu ekspor komoditas unggulan ekspor yang ditetapkan tahun ini, yakni elektronik, otomotif, alas kaki, makanan dan minuman, tekstil, perikanan, permesinan dan produk kayu.

“Tidak ada jalan [untuk memperbaiki kinerja ekspor nonmigas] selain menggencarkan ekspor non-CPO [minyak kelapa sawit mentah/crude palm oil]. Produk unggulan ekspor selain CPO tersebut harus masuk ke dalam pakta dagang yang kita jalin dengan negara mitra, agar nilai dan pangsa pasar ekspornya meningkat,” ujarnya kepada Bisnis.com, Minggu (7/7/2019).

Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Master P. Tumanggormengklaim, secara volume, ekspor CPO dan produk turunannya ke luar negeri terus mengalami kenaikan. Namun, faktor harga CPO yang terus tertekan membuat nilai ekspor komoditas itu terus turun. “Secara jangka pendek, tidak ada jalan lain selain menekan negara mitra untuk melonggarkan ekspor kita seperti ke Uni Eropa melalui gugatan WTO dan melobi India untuk menurunkan bea masuk ekspor CPO dan produk turunan kita,” ujarnya.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyatakan, di satu sisi, implementasi kebijakan B30 yang dilanjutkan dengan B100 cukup baik untuk mengatasi kondisi kelebihan stok CPO Indonesia. Namun, di sisi lain, kebijakan itu secara tidak langsung akan mengurangi volume ekspor CPO, sehingga berpeluang membuat nilai ekspor komoditas itu tidak akan mengalami perkembangan yang berarti pada masa depan.

“Kita harus mencontoh Malaysia, mereka sudah coba shifting dari ekspor CPO dengan mengembangkan ekspor komoditas  pertanian lain seperti karet, manggis dan durian sebagai industri agrikultura yang terintegrasi dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Dia menyebutkan, Malaysia memiliki problem yang hampir sama dengan Indonesia, yakni ekspor CPO yang tertekan sehingga memengaruhi kinerja ekspor nonmigasnya. Namun, negeri jiran mampu melihat peluang untuk memacu ekspor komoditas non-CPO.

“Kita sudah terlalu akut tergantung dengan CPO. Solusi jangka pendeknya tentu meningkatkan penghiliran produk CPO kita. Sebab, industri agrikultura kita yang paling mumpuni rantai pasoknya hanya CPO. Di sisi lain, produk hilir jauh lebih kuat menghadapi gejolak harga.”

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih mengatakan, sejumlah upaya telah ditempuh pemerintah untuk mengungkit kinerja ekspor Indonesia. Namun, dia mengakui Indonesia masih belum bisa mengurangi ketergantungan ekspornya dari CPO.

“Khusus untuk ekspor CPO kita sudah upayakan melalui insentif berupa bea keluar 0. Kita juga sudah upayakan untuk melobi negara mitra dan menyiapkan gugatan ke UE agar CPO kita bisa terjaga ekspornya ke negara tersebut,” katanya.

Di sisi lain, dia menyebutkan, pemerintah juga terus berusaha memacu ekspor nonmigas selain CPO dengan menyiapkan sejumlah pakta dagang, yang di dalam kesepakatannya menyertakan akses pasar yang lebih luas terhadap komoditas nonmigas RI.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor cpo

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top