Pengembang Properti di Asia Harus Optimalkan Jaringan 5G

Akan semakin banyak bangunan yang dipenuhi teknologi, atau kerap disebut smart building. Bangunan pintar dengan 5G memungkinkan untuk memuat lebih banyak sistem data, sehingga pengelolaannya bisa lebih hemat biaya dan efisien untuk waktu yang lebih lama.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  17:54 WIB
Pengembang Properti di Asia Harus Optimalkan Jaringan 5G
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Sejalan dengan perkembangan teknologi, kini telah muncul generasi kelima, atau jaringan 5G, jaringan yang bisa menghubungkan perangkat telekomunikasi lebih cepat 100 kali lipat dari jaringan 4G. Hal ini turut membawa dampak bagi industri properti.

Dilansir dalam keterangan resmi, Kamis (4/7), Direktur Savills Asia Tenggara Chris Marriott mengatakan, dengan kecepatan dan efisiensi jaringan 5G, akan membawa keuntungan tak hanya dari segi komunikasi tapi juga segala praktik bisnis, salah satunya bagi para pengembang properti.

Di Asia Pasifik, Korea Selatan sudah mulai terkoneksi dengan jaringan 5G pada April lalu, dengan 3 juta penduduk Korea Selatan diperkirakan sudah beralih ke jaringan tersebut pada akhir tahun ini. Selain itu, di Australia juga akan mulai terkoneksi dengan jaringan itu akhir tahun ini. Sedangkan China Jepang, Singapura, dan Hong Kong baru akan meluncurkannya pada tahun depan.

Studi Intel menyebutkan bahwa 95% pemain industri teknologi mengatakan bahwa 5G akan menjadi teknologi paling penting dalam 50 tahun terakhir. Meskipun besaran keuntungannya belum bisa diprediksi, tapi 5G jelas akan turut mempengaruhi industri real estat.

Pertama, pengembangan 5G akan memerlukan tempat atau lahan. Pengembangan 5G akan memerlukan pembangunan infrastruktur seperti bangunan untuk pusat data. Untuk membantu transfer data yang lebih cepat, jaringan 5G perlu pusat data yang berukuran lebih kecil dan lebih tersebar agar mudah dijangkau pengguna.

Hal itu bisa dimanfaatkan oleh pengembang properti ke depannya, bekerja sama dengan penyedia layanan 5G untuk mengembangkan lokasi-lokasi pusat data yang lebih tersebar.

Kedua, akan semakin banyak bangunan yang dipenuhi teknologi, atau kerap disebut smart building. Bangunan pintar dengan 5G memungkinkan untuk memuat lebih banyak sistem data, sehingga pengelolaannya bisa lebih hemat biaya dan efisien untuk waktu yang lebih lama.

“5G menawarkan koneksi data yang lebih cepat, bisa digunakan untuk pemanas, pendingin, pengaman otomatis, dan memperbaiki serta mengawasi kinerja bangunan. Di Asia Tenggara, pengeluaran untuk pendingin di properti komersial sangat besar, jadi inovasi seperti ini bisa sangat menguntungkan,” lanjut Marriott.

Ketiga, jaringan 5G bisa mendukung pengembangan smart city. Di kota pintar, data yang digunakan akan sangat besar. Dengan kecepatan 5G, proses data untuk manajemen lalu lintas, limbah, air, dan listrik juga bisa menjadi lebih efisien.

“Sensor yang terletak di seluruh kota pintar dengan 5G bisa menyalurkan data lebih real-time ke manajemen kota, pengelolaan kota pintar jadi bisa lebih mudah dan efisien” lanjut Marriott.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
teknologi 5G, pasar properti asia

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top