Pengusaha Karet Dibayangi Koreksi Produksi dan Ekspor

Kalangan pengusaha karet Tanah Air diselimuti kekhawatiran akan ketersediaan pasokan bahan baku akibat adanya potensi  penurunan produksi.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  07:03 WIB
Pengusaha Karet Dibayangi Koreksi Produksi dan Ekspor
Petani memanen getah karet di Banyuasin, Sumatra Selatan, Selasa (8/1/2019). - Antara/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan pengusaha karet Tanah Air diselimuti kekhawatiran akan ketersediaan pasokan bahan baku akibat adanya potensi  penurunan produksi.

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mengemukakan terdapat beberapa faktor yang memicu kehawatiran tersebut. Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengemukakan penilaian ini berangkat dari data performa ekspor selama Januari-Mei 2019 yang mengalami penurunan di banding periode sebelumnya.

Berdasarkan catatan Gapkindo, ekspor karet selama Januari-Mei 2019 berada di angka 1.088.000 ton. Jumlah tersebut turun 205.000 ton atau 15,8% dibanding periode Januari-Mei 2018 yang mencapai 1.293.000 ton.

"Kami tidak bisa menyimpulkan apakah terjadi penurunan produksi. Namun dari sisi ekspor lima bulan berjalan terjadi penurunan sekitar 15% dibanding tahun lalu," kata Moenardji kala dihubungi Bisnis, Senin (1/7/2019).

Moenardji menjelaskan penurunan ekspor ini sendiri turut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah untuk memangkas volume ekspor karet pada April lalu.

Pemangkasan ekspor tersebut merupakan bagian dari skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ke-6 yang disetujui oleh anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang terdiri atas Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Ketiga negara produsen karet terbesar di dunia ini sepakat untuk mengurangi volume ekspor sebesar 240.000 sebagai usaha untuk mengkerek harga karet di pasar global.

Sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 779 tahun 2019 tentang Pelaksanaan AETS ke-6, ekspor karet alam Indonesia dikurangi sampai 98.160 ton selama empat bulan mulai 1 April sampai 31 Juli 2019. Dengan pengurangan tersebut, total volume ekspor karet Indonesia selama periode yang diatur bakal berada di angka 941.791 ton.

Selain performa ekspor yang turun akibat pemangkasan, Moenardji juga menduga terdapat faktor kurangnya pasokan akibat adanya penurunan produksi. Hipotesis ini berangkat dari penyakit gugur daun yang dikabarkan kembali menjangkiti tanaman karet.

"Kekurangan bahan baku ini dugaan penyebabnya beragam. Disinyalir karena ada penyakit pohon karet, yang membuat pohonnya menjadi kering, seperti meranggas. Akibatnya potensi produksi dari pohon-pohon karet di Indonesia, khususnya Sumatera itu terasa menurun," paparnya.

Moenardji mengaku belum bisa memastikan jumlah pasti dampak dari penyakit tersebut pada produksi. Namun ia memastikan pelaku usaha tengah menunggu penjelasan resmi dari pemerintah soal fenomena yang melanda puluhan ribu hektare lahan karet di tujuh provinsi pada 2018 tersebut.

"Terus terang kami menunggu gambaran dan penjelasan resmi dari pemerintah mengenai apa yang terjadi. Pelaku usaha sangat memperhatikan penurunan produksi dan kami merasakan kekurangan bahan. Ini sangat mengkhawatirkan sehingga perlu ditindaklanjuti jika memang benar dan dicari solusinya," sambung Moenardji.

Direktur Riset dan Pengembangan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Gede Wibawa membenarkan kabar soal masih terdeteksinya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh jamur Pestalotiopsi sp. pada 2019 ini. Kendati demikian, ia belum bisa memastikan luas lahan yang terdampak lantaran masih dalam proses pendataan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan dan PT RPN.

"Saya belum bisa sampaikan luasan terdampak karena masih didata. Kalau pabrik crumb rubber [serbuk karet] menyatakan sudah mulai kesulitan untuk mendapatkan bahan baku, maka ini salah satu tanda produksi berkurang," kata Gede lewat pesan tertulis.

Gede lantas menjelaskan bahwa saat penyakit ini menjangkiti tanaman karet tahun lalu, di beberapa wilayah tertentu di Sumatera Selatan produksi bisa terkoresi antara 15-25%. Ia menambahkan penurunan produksi tersebut juga linier dengan kebiasaan para petani karet yang semakin jarang memupuk tanamannya sehingga menjadi rentan.

"Kurangnya pupuk mengakibatkan lambatnya laju penutupan kanopi tanaman. Sedangkan yang diberi pupuk ekstra nitrogen 25% menunjukkan kemampuan menutup tajuk lebih baik dibanding yang tidak," kata Gede.

Berkenaan dengan dampak penyakit gugur daun karet, Direktur Jenderal Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono menjelaskan bahwa pemantauan di lapangan sampai saat ini masih berjalan di bawah instansinya dan PT RPN. Ia pun belum ingin menguatarakan potensi dampak dari penyakit tersebut terhadap produksi karet tahun ini.

"Kami akan informasikan ketika datanya sudah pasti [soal penyakit gugur daun]. Harap ditunggu supaya bisa saya beri ilustrasi yang tepat," kata Kasdi saat dihubungi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
karet

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top