Milenial Ogah Ribet, Tren Gaya Hidup Co-living Diprediksi Marak

Pada 10 tahun mendatang, generasi milenial menjadi pasar terbesar properti, tetapi generasi milenial kini lebih suka menunda pembelian rumah.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 21 Juni 2019  |  19:13 WIB
Milenial Ogah Ribet, Tren Gaya Hidup Co-living Diprediksi Marak
ilustrasi - Penghuni co-living - Bisnis/istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pada 10 tahun mendatang, generasi milenial menjadi pasar terbesar properti, tetapi generasi milenial kini lebih suka menunda pembelian rumah.

Bukan berarti generasi ini tidak mampu membeli rumah, melainkan karakter generasi milenial yang cenderung lebih praktis mendorong tren pembelian rumah berubah menjadi tren sewa atau co-living.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna memprediksi, beberapa tahun ke depan tren huni di Indonesia sedikit demi sedikit bergeser menjadi sewa tinggal.

Pasalnya, generasi milenial memiliki daya tarik dan gaya hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gaya hidup milenial yang instan, tidak ribet, fleksibel serta berharap memiliki fasilitas lengkap dalam satu lingkungan mendorong lahirnya tren ini.

"Para milenial lebih suka tinggal dalam satu hunian yang memiliki fasilitas lengkap dan instan. Di sisi lain, gaji yang naiknya tidak sepadan dengan kenaikan harga rumah juga mendorong tren ini lahir," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (21/6/2019).

Menurut Yayat, harga properti selalu lebih tinggi dibandingkan dengan penghasilan. Kenaikan harga properti setiap tahun mencapai 17%, tidak sebanding dengan kenaikan rata-rata gaji yang hanya mengalami kenaikan sebesar 10%.

Sementara itu, karakter milenial yang lebih fleksibel, gengsi dan cepat bosan mendorong mereka untuk menghabiskan uangnya pada kegiatan konsumtif dan traveling.

Hal ini menjadi salah satu cikal bakal lahirnya tren co-living yang dapat berbagi ruang tinggal bersama, bekerja dalam satu ruang yang sama, dengan konsep yang menarik tanpa memikirkan biaya cicilan rumah, listrik, serta kebutuhan primer lain karena telah tersedia dalam satu tempat tinggal.

"Gaji mereka cenderung tetap, jika harus menyicil rumah, bayar listrik, IPL, pajak akan ribet dan terlalu banyak, mereka pasti akan mengorbankan biaya transportasi dan memilih hunian sewa dekat kantor dibandingkan dengan menghabiskan waktu dalam perjalanan ke kantor," tuturnya.

Senada dengan Yayat, Direktur PT PP Urban Budi Suanda mengatakan bahwa generasi milenial memiliki tren konsep hunian yang berbeda dengan generasi sebelumnya. 

Budi menuturkan bahwa generasi milenial lebih tertarik dengan konsep huni yang memiliki segala kemudahan dan fasilitas dalam satu kawasan seperti One Stop Living, konsep tematik, smart living, green living serta co-living.

"Fasilitas yang perlu dikembangkan bagi milenial adalah fasilitas yang erat kaitannya dengan teknologi dan digital, produktivitas yang tinggi, lingkungan yang peduli terhadap alam, fungsional, praktis dan meningkatkan kualitas taraf hidup mereka," tuturnya pada acara Indonesia Housing Forum minggu ini.

Bisnis co-living yang telah diprediksi marak ini mulai ditawarkan pasar  sedikit demi sedikit belakangan ini. Salah satunya yakni CoHive yang baru saja meluncurkan bisnis properti terbarunya serta The Park South City proyek milik PT. Setiawan Dwi Tunggal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti, generasi milenial, coliving

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top