Harga CPO pada Semester II Dikhawatirkan Belum Membaik

Salah satu upayanya adalah lewat program energi terbarukan yang mewajibkan penyertaan bahan bakar nabati biodiesel atau B30.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  14:31 WIB
Harga CPO pada Semester II Dikhawatirkan Belum Membaik
Pekerja membongkar muatan kelapa sawit dari truk di Salak Tinggi, di luar Kuala Lumpur, Malaysia. - Reuters/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan pengusaha Tanah Air memperkirakan produksi minyak sawit mentah (CPO) sampai akhir tahun masih menunjukkan peningkatan. Kendati demikian, tren produksi yang lebih tinggi pada semester II dikhawatirkan dapat menyeret harga komoditas utama perkebunan tersebut ke level yang lebih rendah.

Kekhawatiran ini diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono. Ia merujuk pada kondisi harga CPO saat ini rendah meski produktivitas berada pada low season.

"Dunia usaha ini sedang ketar-ketir, sangat khawatir dengan penurunan harga yang terjadi lagi saat panen puncak. Produksi pada semester II biasanya berkontribusi 55% dari total sepanjang tahun, sementara semester 45%. Sekarang saja harga sudah jelek. Diduga sudah over supply," kata Joko di Jakarta, Rabu malam (19/6/2019).

Dari segi perdagangan, Wakil Ketua Umum Gapki Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang mengutarakan hal senada. Ia menilai volume ekspor CPO tetap akan meningkat dibanding tahun sebelumnya, namun peningkatan tersebut tak akan diikuti kenaikan jumlah nilai. Ia berpendapat nilai eskpor akan turun cukup signifikan sampai akhir tahun.

"Nilai ekspor kita akan turun meski volumenya meningkat. Tapi siap-siap nilai per kuartal turun cukup signifikan. Saat ini harga FOB [freight on board] CPO berkisar US$470/ton, RDB [refined, bleached, and deodorized] olein sekitar US$500/ton. Saya perkirakan segitu terus sepanjang tahun," tutur Togar.

Sebagai langkah untuk memperbaiki harga, Joko dan Togar berpendapat serapan dalam negeri perlu ditingkatkan. Salah satu upayanya adalah lewat program energi terbarukan yang mewajibkan penyertaan bahan bakar nabati biodiesel atau B30. Kendati demikian, Togar berpendapat dampak dari kewajiban penggunaan B30 belum berdampak besar untuk tahun ini lantaran baru diimplementasikan pada 2020.

"B30 baru berjalan pada 2020, kalaupun berdampak, kenaikan sedikit terjadi pada akhir tahun," kata Togar.

Melihat realisasi kenaikan serapan yang belum terjadi dalam waktu dekat, Joko menilai pemerintah dan pelaku usaha perlu mengamankan negara-negara tujuan ekspor dengan permintaan yang besar.

"Pasar-pasar yag selama ini menyerap banyak harus diperjuangkan dengan benar-benar, seperti India. Di sana masih ada peluang, jangan sampai ekspor malah turun," kata Joko.

Dalam mengamankan pasar potensial seperti India, Joko juga berpendapat perlu usaha untuk mencapai kesepakatan tarif impor. Pasalnya, negara tersebut mengenakan tarif impor 5% lebih tinggi untuk CPO asal Indonesia dibanding dengan Malaysia, produsen CPO lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor sawit, harga sawit

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup