Ibu Kota Dipindah, Bappenas Jaring Masukan Para Mantan Duta Besar

Ketua Forum Duta Besar Republik Indonesia Hasyim Djalal, diplomat senior yang pernah menjabat sebagai duta besar di Kanada hingga Jerman, menggarisbawahi tiga hal penting terkait IKN.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  23:59 WIB
Ibu Kota Dipindah, Bappenas Jaring Masukan Para Mantan Duta Besar
Presiden Joko WIdodo (kanan) menerima buku rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2020 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dari Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat membuka acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2019 di Jakarta, Kamis (9/5/2019). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjaring sejumlah masukan berharga (lesson learned) dari sejumlah mantan duta besar yang tinggal selama 3 - 4 tahun di negara-negara yang memiliki pengalaman memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) seperti Myanmar, Nigeria, Malaysia, dan Brasilia.

Penjaringan masukan berharga yang bukan hanya hasil riset jangka waktu tertentu, namun juga sudut pandang unik first-hand experiences dari para mantan duta besar itu dilakukan dalam acara audiensi Forum Duta Besar Republik Indonesia di Ruang Rapat Djunaedi Hadisumarto 1-2, Gedung Saleh Afiff, Kementerian PPN/Bappenas, Senin (17/06/2019).

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyebutkan bahwa terdapat sejumlah kriteria penentuan lokasi IKN, yaitu strategis, lahan luas dan bebas bencana, sumber daya air cukup, potensi konflik sosial yang rendah, serta memenuhi perimeter pertahanan dan keamanan.

"Dalam membangun IKN, Indonesia akan meminimalkan pembiayaan APBN. Porsi pemerintah masih bisa diatasi dengan memanfaatkan manajemen aset hingga melalui skema Public Private Partnership, mendorong partisipasi BUMN, KPBU, dan swasta,” ujarnya melalui keterangan resmi, Senin (17/06/2019).

Ketua Forum Duta Besar Republik Indonesia Hasyim Djalal, diplomat senior yang pernah menjabat sebagai duta besar di Kanada hingga Jerman, menggarisbawahi tiga hal penting terkait IKN.

Menurutnya, tiga hal penting terkait pemindahan IKN itu yakni alasan pemindahan, persiapan yang diperlukan termasuk keberlanjutan visi Indonesia sebagai negara maritim, dan skema pembiayaan.

“Kami harap Bapak Menteri bisa menjelaskan hal ini kepada kami, para Duta Besar Republik Indonesia dan pihak-pihak yang berkaitan dengan kalangan diplomatik. Kami adalah kelompok yang tidak pernah berhenti berpikir apa yang terbaik buat Indonesia,” jelasnya.

Selain Hasyim, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno, mantan Dubes Republik Indonesia untuk Brasilia Primo Alui Joelianto, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Myanmar Ito Sumardi.

Selain itu, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tanzania Yudhistiranto Sungadi dan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Abuja Harry Purwanto turut memaparkan best practices dan pembelajaran penting lainnya terkait pemindahan IKN.

Menteri Bambang menjelaskan urgensi pemindahan IKN, mengingat sekitar 57% penduduk Indonesia terkonsentrasi di Jawa, pulau yang menyumbang 58% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Hal tersebut menunjukkan ketimpangan pembangunan yang terpusat di Kawasan Barat Indonesia, padahal potensi di Kawasan Timur Indonesia juga sangat besar. Kalau bicara soal Jabodetabek, share PDB Jabodetabek itu lebih dari 20%.

Artinya, seperlima ekonomi Indonesia terkonsentrasi hanya di Jabodetabek, dan nampaknya tidak akan menurun karena rata-rata pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa yang terakhir menunjukkan angka 5,6%, sedangkan di luar Pulau Jawa hanya 4,7%.

"Jadi, beban di Pulau Jawa ini luar biasa dari segi penduduk dan ekonomi," ujarnya.

Akibat beban berat ini, Jakarta pasti rawan banjir sehingga posisi Jakarta tidak ideal, lalu tanah di Jakarta akan turun dan permukaan air lautnya akan naik.

"Nah satu lagi, 96% kualitas air laut tercemar berat. Belum lagi kemacetan tinggi dan sistem pengelolaan yang buruk menimbulkan kerugian ekonomi akibat kemacetan hingga Rp56 triliun per tahun,” tutur Bambang.

Pihaknya juga menjelaskan proy mantaniter batasnya ketersediaan air bersih di Pulau Jawa, yakni di angka 630 meter kubik per kapita per tahun.

Menurutnya, hal lainnya adalah pertumbuhan urbanisasi yang sangat tinggi, dimana konsentrasi penduduk terbesar berada di Jabodetabekpunjur.

“Jika dilihat dari luasan lahan pertaniannya, konsumsi lahan terbangun terbesar terdapat di Pulau Jawa, namun cenderung menurun, dengan penurunan luasan lahan pertanian sebesar satu persen," ujarnya.

Adapun kepadatan penduduk Jakarta adalah nomor ketiga saat ini, kalah jauh dari Manila, Paris atau Tokyo. "Inilah mengapa beban Jakarta sangat berat dan harus segera dibenahi,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ibu Kota Dipindah

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup