Aksi Unjuk Rasa di Hong Kong Tingkatkan Risiko Ekonomi Jangka Panjang

Protes besar warga Hong Kong terhadap RUU Ekstradisi dinilai dapat meningkatkan risiko ekonomi jangka panjang atas kota pelabuhan itu, di tengah belum stabilnya kondisi ekonomi global.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  16:12 WIB
Aksi Unjuk Rasa di Hong Kong Tingkatkan Risiko Ekonomi Jangka Panjang
Deretan gedung pencakar langit di kawasan bisnis Hong Kong menjelang terbenamnya matahari, Kamis (13/6/2019). - Reuters/Tyrone Siu

Bisnis.com, JAKARTA -- Protes massal yang berlangsung di Hong Kong sepanjang pekan ini, kemungkinan besar akan memberikan dampak jangka pendek dan bahkan jangka panjang terhadap proyeksi ekonomi daerah administratif khusus tersebut.

Meskipun skala unjuk rasa yang berlangsung dalam rangka penolakan RUU Ekstradisi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan demonstrasi pada 2014 yang melumpuhkan pusat kota, dampaknya terhadap kegiatan ekonomi kota akan lebih terasa. Selain faktor eksternal, yakni pelemahan global dan perang dagang, Hong Kong telah mencatatkan pelemahan pertumbuhan sejak krisis 2009.

Jika penolakan terhadap RUU tersebut terus berlanjut, kekhawatiran atas intervensi China yang dapat menyebabkan otonomi Hong Kong sebagai daerah istimewa tergerus akan meningkat dan mengikis citra kota pelabuhan tersebut sebagai pusat keuangan.

“Hong Kong adalah kota yang beroperasi dengan institusi dan aturan hukum ala Barat, jika kualitas-kualitas ini terusik, apa daya tarik Hong Kong yang dapat dibandingkan dengan kota-kota lain di China daratan?'' kata Gareth Leather, ekonom senior Asia untuk Capital Economics Ltd di London, seperti dilansir Bloomberg, Jumat (14/6/2019).

Unjuk rasa ini setidaknya memberikan dampak langsung yang terlokalisasi.

Pacific Place, sebuah pusat perbelanjaan mewah dengan lebih dari 200 outlet, terpaksa ditutup pada Kamis (13/6), akibat unjuk rasa yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.  Di lokasi lain, agenda perlombaan Dragon Boat diperkirakan akan dihadiri oleh lebih dari 60.000 penonton dan dijadwalkan digelar pada Jumat (14/6), terpaksa dibatalkan.

Protes massal ini dikabarkan akan berlanjut dengan skala yang lebih besar pada Minggu (16/6).

Pemerintah mengatakan bahwa aksi tersebut telah mempengaruhi kinerja bisnis pariwisata, hotel, katering, ritel dan industri transportasi. Pertengkaran politik yang berkepanjangan juga disebut akan merugikan citra internasional Hong Kong sebagai kota yang stabil dan efisien.

Benchmark ekuitas Hong Kong, Indeks Hang Seng anjlok 1,7 persen pada Rabu (12/6), di tengah kerusuhan paling serius sejauh ini, di mana kinerja pengembang properti lokal merosot ke rekam jejak terendah. Pada saat yang sama, dolar Hong Kong menguat sebanyak 0,26 persen, yang merupakan kenaikan terbesar dalam 7 bulan terakhir.

Sementara itu, biaya pinjaman antar bank untuk tenor 1 bulan, atau yang dikenal sebagai Hibor, naik ke level tertinggi sejak 2008.

Analis bank Francis Chan mengatakan kredibilitas Hong Kong sebagai pusat keuangan dapat terusik jika pemerintah meneruskan pembahasan RUU Ekstradisi. Menurutnya, bank-bank seperti HSBC dan Bank of China (Hong Kong) alias BOCHK akan mengalami kerugian akibat dampak arus modal keluar.

RUU Ekstradisi telah dikritik oleh pemerintah Barat dan bisnis internasional sebagai ancaman terhadap kerangka "One Country, Two System" yang hingga saat ini mampu mempertahankan status Hong Kong sebagai pusat keuangan global.

Sebelum unjuk rasa berlangsung, Pemerintah Hong Kong memproyeksikan ekonomi akan tumbuh pada kisaran 2-3 persen pada tahun ini. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg melihat ekspansi sebesar 2,2 persen tahun ini, turun dari 3 persen pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top