Meski Daya Saing Melonjak, Ini PR Yang Akan Dikerjakan Pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa meskipun mengaku senang dengan melonjaknya peringkat daya saing Indonesia, namun dirinya menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus DNA segera diselesaikan pemerintah.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 03 Juni 2019  |  08:27 WIB
Meski Daya Saing Melonjak, Ini PR Yang Akan Dikerjakan Pemerintah
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi XVI di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jakarta, Jumat (16/11/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa meskipun mengaku senang dengan melonjaknya peringkat daya saing Indonesia, namun dirinya menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus DNA segera diselesaikan pemerintah.

Menurut mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut, salah satu fokus penyelesaian pekerjaan rumah yang sedang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah memperbaiki neraca perdagangan. 

"Kenapa saya sebut neraca perdagangan, bukan transaksi berjalan? Transaksi berjalan itu hasil berikutnya. Kalau neraca perdagangan tidak positif, maka situasi transaksi berjalannya juga tidak terlalu membaik," ujar Darmin

Diketahui bahwa Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal-I 2019 mencapai sebesar US$7 miliar dollar AS atau 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$9,2 miliar dollar AS atau 3,6% dari PDB.

Menurut Menko Darmin, guna mengatasi masalah neraca dagang tersebut, pihaknya akan fokus membenahi neraca migas di Tanah Air saat ini. Pasalnya neraca migas dinilai sebagai salah satu kontributor terbesar terhadap defisit neraca perdagangan.

Pada April 2019, neraca perdagangan kembali defisit sebesar US$2,5miliar, setelah mencetak surplus pada Maret 2019 sebesar US$0,67 miliar. 

Darmin pun mengaku bahwa pemerintah sudah mulai melakukan upaya perbaikan atas masalah tersebut dengan melaksanakan kebijakan mandatori penggunaan campuran biodiesel 20% untuk mengurangi penggunaan impor solar selama ini. 

Menurutnya program tersebut akan terus ditingkatkan kepada level persentase penggunaan campuran biodiesel yang semakin tinggi ke depannya, seperti B30 hingga bahkan B100.

Kemudian, lanjut Darmin, selain memperbaiki neraca migas, pihaknya juga akan memperbaiki neraca non migas dan neraca jasa. 

Pada neraca jasa, pemerintah akan memperbaiki pencatatan hasil investasi PT Pertamina (Persero) di luar negeri, guna memperbaiki neraca pendapatan primernya.

Seperti diketahui bahwa peringkat daya saing Indonesia melonjak signifikan menurut International Institute for Management Development (IMD) World Competitiveness Ranking 2019 yang diterbitkan oleh IMD World Competitiveness Center.

Laporan yang diterbitkan pada 28 Mei 2019 itu, peringkat daya saing Indonesia menempati posisi ke 32 atau naik 11 poin dari posisi sebelumnya yang berada di urutan 43. Hal itu membuat Indonesia menjadi negara yang mengalami peningkatan peringkat daya saing tertinggi di kawasan Asia Pasifik. 

Laporan IMD berisi penilaian terhadap 63 negara dengan lebih dari 230 indikator yang dikelompokkan dalam empat pilar yaitu kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
daya saing

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top