Perang Dagang Jatuhkan Valuta Asing

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China mulai membebani pasar valuta asing (valas).
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  15:51 WIB
Perang Dagang Jatuhkan Valuta Asing
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China mulai membebani pasar valuta asing (valas).

Alih-alih memanfaatkan mata uang sebagai senjata untuk melawan perang dagang, sebagian negara terpaksa mengeluarkan strategi defensif untuk bertahan terhadap dolar AS.

Sejumlah bank sentral di Asia lebih memprioritaskan ketahanan mata uang agar tetap stabil dan menjaga volume dana keluar daripada melakukan devaluasi untuk meningkatkan daya saing dalam perdagangan.

Pejabat bank sentral di China, Korea Selatan, dan Indonesia merupakan sebagian dari otoritas yang mengambil langkah untuk menguatkan mata uang mereka karena prospek depresiasi yang lebih cepat meningkatkan keresahan atas potensi modal keluar.

Kekuatan mata uang yang bergolak menggeser fokus pasar terhadap China terkait bagaimana negeri bambu tersebut akan menangani yuan yang diprediksi menjadi lebih murah.

Para trader opsi memperkirakan peluang renminbi melemah mencapai 35 persen pada akhir tahun mencapai 7 RMB per dolar AS, proyeksi tertinggi yang belum pernah terlihat sejak krisis keuangan. Pada akhir Maret, probabilitasnya hanya 15 persen.

Depresiasi semacam itu akan mengancam untuk meningkatkan ketegangan dengan AS dan berpotensi mendorong mata uang negara berkembang secara luas menjadi lebih rendah.

"Dampak perang dagang yang sudah diperkirakan akan terjadi antara lain pengaruhnya terhadap dolar AS, menguras cadangan devisa ekonomi berkembang dan mendorong investor lebih intens di pasar tresuri. Pada akhirnya, hanya ada satu pemenang, dolar AS," kata Sebastien Galy, ahli strategi makro senior di Nordea Investment Funds, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (23/5/2019).

Hampir seluruh mata uang negara berkembang melemah sepanjang bulan ini terhadap greenback.

Onshore yuan adalah salah satu yang mencetak performa terburuk dengan pelemahan 2,5 persen pada Mei menjadi sekitar 6,9063 per dollar AS sampai dengan Rabu (22/5/2019), ini merupakan level terendah yuan sejak 2018.

Adapun, won Korea Selatan tergelincir pekan ini ke titik terlemah selama lebih dari dua tahun. Pada saat yang sama rupiah Indonesia juga mencatatkan level terendah sepanjang 2019.

Sementara nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan ekspor, bank sentral memberi sinyal tujuan mereka sekarang adalah untuk membendung keluarnya investor dari investasi dalam negeri.

Lisa Synning, seorang manajer uang di Stockholm mengatakan bahwa Korea Selatan terekspos dampak perang dagang dari sektor teknologi sementara Indonesia merupakan salah satu dari sekian negara yang rentan terhadap penguatan dolar.

"Tentu saja mereka khawatir dan akan mengambil sebuah tindakan," ujar Synning.

Sementara itu Bank Indonesia, yang baru-baru ini melakukan intervensi pasar, mengatakan akan berkoordinasi dengan bank dan institusi lainnya untuk menjaga stabilitas rupiah.

Di China, PBOC pada Rabu (22/5/2019), menetapkan bahwa yuan akan menguat pada level tertinggi dari yang diperkirakan selama tiga hari berturut-turut.

Kenaikan tingkat suku bunga, yang membatasi pergerakan onshore yuan sebesar 2 persen di kedua sisi, membantu menghentikan penurunan nilai mata uang terhadap valuta asing lainnya yang setara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
valas, china, amerika serikat, korea selatan, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top